Berita

Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira/Net

Politik

Bhima Yudhistira Ungkapkan Modus Pencucian Uang Lewat Perusahaan Rintisan

RABU, 09 FEBRUARI 2022 | 23:55 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Kerusakan lingkungan hidup terus menjadi sorotan publik. Apalagi setelah beberapa hari ini ruang publik diramaikan berita terancamnya kelestarian lingkungan warga Desa Wadas, Jawa Tengah versus pemerintah yang represif.

Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira menyebutkan bahwa pemerintah sulit tegas dalam menindak perusahaan perusak lingkungan karena berkaitan dengan sistem ekonomi politik dewasa ini.

“Yaitu antara pejabat publik dan pengusaha yang terindikasi merusak lingkungan, sekarang hampir tidak bisa dibedakan,” demikian kata Bhima dalam sebuah diskusi virtual (09/02) yang berjudul Kerusakan Lingkungan Hidup, Kerugian Negara, dan Tindak Pidana Pencucian Uang.   


Menurut Bhima, mereka pejabat ini punya saham, berkuasa terhadap manajemen, duduk sebagai direksi, dan secara terang-terangan tanpa malu aktif di perusahaan ekstraktif seperti batubara dan kelapa sawit.

Dengan kondisi seperti iti, berakibat bila ada masalah kerusakan lingkungan, pemerintah akan berpihak kepada sektor esktraktif ini.

Untuk di level daerah, Bhima melihat ada kecenderungan para pejabat dan aparatnya menjadi sungkan (tidak enak) untuk melakukan pengawasan.

“Karena takut urusannya bisa panjang sama bos,” ujarnya.

Selain itu, Bhima juga menyoroti hubungan yang kuat antara sektor esktraktif yang berpotensi merusak lingkungan hidup dengan kemunculan dari perusahaan-perusahaan digital, ventur-ventur capital, dan perusahaan start-up atau rintisan.

Dalam pandangan Bhima, modus pencucian uang di banyak negara, di Indonesia, Jepang, China, dan Eropa, menggunakan uang hasil dari ekstraktif untuk diputar-putar.

Catatan Bhima, pada era sebelumnya digunakan untuk pembelian bangunan, mobil, atau aset saham dan surat utang, sekarang ada modus baru di mana uang hasil dari kejahatan lingkungan dimasukkan ke perusahaan-perusahaan modal ventura asing.

Setelah dimasukkan ke perusahaan modal ventura asing, baru disuntikkan ke perusahaan startup dalam negeri.  
“Oleh karena itu KPK dan PPATK akan kesulitan melakukan penelusuran,” ujar Bhima.

Ia menganalisa, modus baru ini sangat kompleks, bukan sekadar seseorang melakukan suap atau korupsi biasa, yang semua itu terlalu kelihatan nyata. Saat ini, kata Bhima modusnya uangnya diputar-putar.

Secara teknis, hasil kajian Bhima, saat ini modusnya adalah dengan menyuntikkan uang hasil kejahatan lingkungan tersebut ke perusahaan rintisan Indonesia, setelah sebelumnya berputar-putar dahulu ke perusahaan modal ventura di luar negeri seperti di Singapura.

Bhima menduga, bila perusahaan modal ventura yang mengklaim internasional ini dibuka, ternyata di dalamnya adalah uang dari hasil kejahatan lingkungan di Indonesia juga.

“Apalagi bila benar tidak terdaftar secara resmi, bisa jadi perusahaan yang mengaku modal ventura tersebut hanyalah perusahaan cangkang atau shell company seperti dalam kasus Panama dan Pandora Papers,” jelas Bhima Yudistira.

Beberapa waktu belakangan ini publik di Indonesia sempat dihebohkan dengan perusahaan rintisan milik kedua anak Presiden Jokowi yang disuntik dana totalnya Rp 99 miliar oleh perusahaan Singapura yang bernama Alpha JWC Ventures.

Selain itu, publik terheran-heran dengan suntikan dana senilai Rp 92 miliar oleh perusahaan Singapura lainnya yang bernama Walker Strategic Investment untuk membeli saham sebuah perusahaan frozen food.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?

Minggu, 20 September 2026 | 19:41

Tim Qonun Asasi Sebut Wacana Muktamar Ulang NU Tak Punya Dasar

Minggu, 20 September 2026 | 19:29

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Rusia Gelar Pemilu Parlemen di Wilayah Ukraina yang Diduduki

Minggu, 20 September 2026 | 18:48

Negosiasi dengan Houthi, Solusi Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 | 18:43

Datangi Pospera, Ratusan Warga Minta Turunkan Desil

Minggu, 20 September 2026 | 18:18

Honor Play 11 Resmi Meluncur, Bawa Baterai Jumbo 8.300 mAh

Minggu, 20 September 2026 | 18:06

Timur Tengah Memanas, Trump Cepat-cepat Tinggalkan Camp David

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia?

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

BNI dan Unpad Perkuat Ekosistem Kampus melalui Layanan Digital Terintegrasi

Minggu, 20 September 2026 | 17:28

Selengkapnya