Berita

Bisnis

Saham BBTN Melesat 11,58 Persen Pekan Lalu, Begini Kata Para Analis

SENIN, 31 JANUARI 2022 | 18:49 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) melesat 11,58 persen pada Jumat (28/1). Ditutup pada level Rp 1.735, kinerja saham BBTN mencatat kenaikan mingguan sebesar 3,89 persen.

Total transaksi saham BBTN pada Jumat pekan lalu mencapai Rp 95,56 miliar yang diikuti aksi beli investor asing dengan net buy sebesar Rp 2,2 miliar. Dalam sebulan terakhir, investor asing memborong saham BBTN dengan net buy Rp 17,6 miliar.

Pada hari yang sama, saham BBTN mengalahkan kenaikan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 4,17 persen dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 1,32 persen.


Kedua bank pelat merah tersebut terdorong sentimen positif laporan keuangan full year 2021 yang cemerlang. BBNI mencatatkan laba bersih Rp 10,89 triliun pada 2021, naik lebih dari 3 kali lipat dibandingkan dengan 2020.

Sementara Bank Mandiri meraih laba bersih sebesar Rp 28,03 triliun pada 2021, tumbuh 66,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada saat yang sama BMRI mencatat rekor laba tertinggi sepanjang sejarah.

Meskipun saham BBTN melesat jauh lebih tinggi pada Jumat pekan lalu, namun emiten perbankan yang fokus pada bisnis properti ini belum mengeluarkan laporan keuangan 2021. Rencananya, BBTN akan mengeluarkan laporan keuangan dalam waktu dekat, yakni sekitar tanggal 8 Februari 2022.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada berpendapat bahwa kenaikan saham BBTN terkerek laporan keuangan cemerlang bank pelat merah lainnya, yakni BBNI dan BMRI. Pasar berekspektasi kinerja keuangan BBTN akan inline dengan kedua bank tersebut.

"Jika kita lihat memang industrinya juga sudah mulai membaik. Selain itu kinerja bank-bank beberapa hari belakangan sangat baik, mulai dari BCA, BNI, Mandiri. Hal ini membuat pelaku pasar kemarin juga optimis kinerja BTN akan baik seperti bank-bank tersebut, sehingga mereka masuk ke saham BTN," terang Reza dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (31/1).

Dari sisi harga, Reza menilai saham BTN masih tergolong murah, dibandingkan harga saham lainnya. Seperti diketahui valuasi saham BBTN masih yang termurah di antara 4 bank BUMN lainnya. Price to book value BBTN masih di level 0,89 kali, dibandingkan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di 2,27 kali, Mandiri di 1,82 kali, dan BNI di 1,13 kali.

“Dengan ekspetasi kinerja BTN yang baik, sahamnya juga masih tergolong murah,” ujarnya.

Analis Fundamental PT Kanaka Hita Solvera, Raditya Krisna Pradana mengatakan, pada dasarnya valuasi BBTN masih sangat menarik. Secara valuasi berdasarkan PBV, ia menilai harga intrinsik BBTN di level 2642. Sedangkan berdasarkan DCF (discounted cash flow), harga intrinsik BBTN berada di level 2220.

"Dibandingkan dengan harga saat ini yang berada di bawah level 1700, maka saham BBTN undervalue,” ujar Raditya.

Raditya menjabarkan isu ekonomi yang akan mendorong penguatan saham BBTN ke depan adalah perpanjangan insentif pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah untuk sektor properti pada periode Januari-Juni 2022. Insentif ini otomatis akan meningkatkan permintaan terhadap properti.

Selain itu, pemulihan pertumbuhan ekonomi yang positif diyakini juga menjadi faktor penggerak sektor properti tahun ini. “Apabila Omicron terkendali, maka performa sektor properti tahun ini kami proyeksikan akan mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.

Senada dengan Raditya, Direktur PT Ekuator Swarna Investama Hans Kwee juga menilai valuasi BBTN masih sangat menarik. Ia meyakini kebangkitan sektor properti akan lebih cepat terjadi ketika ekonomi mulai pulih.

“Properti terbukti selalu menjadi motor kebangkitan ekonomi karena multiplier effectnya sangat besar. Ketika ekonomi pulih dan sektor properti bangkit, bank spesialis perumahan seperti BBTN akan menikmati hasilnya. Peluangnya bagus,” ujarnya.

Raditya juga menyoroti bahwa rencana rights issue juga menjadi pendorong positif bagi kinerja bisnis dan keuangan BBTN pada tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

“Kami menilai impact right issue bagi ekspansi bisnis BBTN cukup positif apalagi ditambah dengan pemulihan pertumbuhan perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Bagi Hans Kwee, penguatan modal menjadi kunci bagi bank yang fokus pada kredit properti. Apalagi, BTN juga memiliki tugas dalam mendukung agenda pemerintah dalam program sejuta rumah.

“Dampak positif bagi BTN akan terlihat ketika kredit mulai ekspansi lagi. Tapi itu harus menunggu pasar properti benar-benar bangkit dan ini mungkin mulai tahun depan pasca pandemi. Penambahan modal perlu dilakukan secepatnya agar ketika ekonomi pulih, bank sudah lebih siap,” jelasnya.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya