Berita

Pengamat terorisme Al Chaidar/Net

Pertahanan

Al Chaidar: Pernyataan Jenderal Dudung soal Radikal Kanan Benar, tapi Upaya Kontra Terorisme Negara Jauh Tertinggal

RABU, 26 JANUARI 2022 | 15:18 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pernyataan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman yang menyebut adanya kelompok radikal kanan telah menelusup ke sejumlah tempat dan terjadi dalam hitungan menit, memang benar adanya.

Meski demikian, Pengamat terorisme Al Chaidar menganalisa selama ini upaya negara dalam mengatasinya boleh dikatakan jauh tertinggal. Seharusnya, negara menggunakannya cara mutakhir dalam rangka mengantisipasi infiltrasi gerakan radikalisme kanan di Tanah Air.

"Iya benar sekali seharusnya negara menggunakan program kontra wacana untuk menghantam wacana wacana terorisme radikalisme dan fundamentalisme yang disebarkan oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Wahabi khususnya Wahabi takfiri dan Wahabi yang lainnya," kata Al Chaidar kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Rabu (26/1).


Sebab, sambungnya, harus diakui perkembangan radikalisme, fundamentalisme dan terorisme di Indonesia itu memang sangat cepat dalam hitungan detik.

Analisa Chaidar, rekruitmen dan propaganda kelompok yang terafiliasi pada terorisme mereka berjalan secara sangat masif.

Atas dasar itu, Al Chaidar menyebut program kontra wacana di Indonesia harus diperhatikan dan dielaborasi dalam rangka mengantisipasi radikalisme kanan bisa musnah di Tanah Air.

"Selama ini program kontra wacana tidak pernah dilakukan oleh pemerintah justru yang melakukannya adalah kalangan umum masyarakat biasa yang terdiri dari kyai dan para ustad-ustad serta ulama-ulama yang yang anti terhadap ideologi takfirisme," tukasnya.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Strategi Perang Laut Iran Miliki Relevansi dengan Indonesia

Minggu, 19 April 2026 | 05:59

Inflasi Pengamat dan Ilusi Kepakaran di Era Digital

Minggu, 19 April 2026 | 05:45

Relawan MBG Kini Wajib Didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan

Minggu, 19 April 2026 | 05:23

PB HMI Ajak Publik Pakai Rasionalitas Hadapi Polemik JK

Minggu, 19 April 2026 | 04:55

Perlawanan Iran: Prospek Tatanan Dunia Baru

Minggu, 19 April 2026 | 04:35

PDIP Setuju Parpol Wajib Lapor soal Pendidikan Politik Pakai Uang Negara

Minggu, 19 April 2026 | 04:15

JK: Rismon Mau Ketemu Saya dengan Tujuh Orang, Saya Tolak!

Minggu, 19 April 2026 | 03:53

Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi Militer di Papua

Minggu, 19 April 2026 | 03:30

Belajar dari Era Jokowi, PDIP Ingatkan Partai Koalisi Pemerintah Jangan Antikritik

Minggu, 19 April 2026 | 03:14

Indonesia Harus Belajar Filsafat dan Strategi dari Perang Laut Iran 2026

Minggu, 19 April 2026 | 02:55

Selengkapnya