Berita

Anggota Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini/Net

Politik

Titi Anggraini: Menggantungkan Pencalonan Presiden pada Suara Parlemen Tidak Sejalan dengan Presidensialisme

JUMAT, 21 JANUARI 2022 | 16:30 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Adanya ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold (PT) 20 persen merujuk kekuatan politik lima tahun lalu, merupakan praktik anomali dalam sebuah negara yang menganut sistem presidensial. 

Demikian disampaikan anggota Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini saat menjadi narasumber dalam webinar bertajuk "Problematika Masa Jabatan Kepala Daerah dan Pemilihan Serentak 2024" pada Jumat sore (21/1).

Menurutnya, jika Indonesia menganut sistem presidensial, maka seharusnya pencalonan presiden pada pilpres tidak bergantung pada suara parlemen.


“Menggantungkan pencalonan presiden kepada parlemen, sesungguhnya tidak sejalan dengan presidensialisme yang kita anut," kata Titi Anggraini.

Titi Anggraini mengurai, dalam Pasal 6A ayat 2 UUD 1945 sudah sangat tegas dinyatakan bahwa syarat pengusulan capres dan cawapres yaitu pasangan calon (paslon) diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu.

"Jadi, baik sendiri-sendiri atau bergabung parpol peserta pemilu bisa mengusulkan paslon," tegasnya.

Oleh karena itu, kata Titi Anggraini, menambahkan syarat ambang batas pencalonan merupakan distorsi terhadap norma konstitusi itu sendiri.

"Selain penyimpangan terhadap sistem presidensial, menyimpangi Pasal 6A Ayat 2 UUD, merujuk pada kekuatan politik masa lalu lima tahun lalu itu merupakan praktik anomali yang tidak ada satupun yang diterapkan di dunia," tuturnya.

"Saya berpendirian bahwa harusnya ambang batas pencalonan presiden itu 0 (persen)," demikian Titi Anggraini. 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya