Berita

Parlemen Prancis mengeluarkan resolusi mengecam genosida Uighur di Xinjiang, China/Net

Dunia

Adopsi Resolusi Genosida Uighur, Prancis: Kami Mencintai Orang China, Tapi Menolak Tunduk pada Propaganda

JUMAT, 21 JANUARI 2022 | 09:37 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

China dibuat geram dengan resolusi yang diadopsi oleh parlemen Prancis baru-baru ini. Pasalnya resolusi itu menyebut adanya genosida di Xinjiang.

Pada Kamis (20/1), parlemen Prancis mengecam genosida China terhadap minoritas Muslim Uighur di Xinjiang.

Resolusi tidak mengikat, diadopsi dengan 169 suara mendukung dan hanya satu menentang, diusulkan oleh Sosialis oposisi di Majelis Rendah Parlemen.


Sesuai resolusi yang diadopsi, Majelis Nasional secara resmi mengakui kekerasan yang dilakukan oleh China terhadap Uighur sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida.

"China adalah kekuatan besar. Kami mencintai orang-orang China. Tapi kami menolak untuk tunduk pada propaganda dari rezim yang mengandalkan kepengecutan dan ketamakan kami untuk melakukan genosida di depan mata," kata ketua partai Sosialis, Olivier Faure.

Resolusi tersebut juga menyoroti kondisi kamp interniran di Xinjiang, di mana pelanggaran hak asasi manusia terjadi, kerja paksa, pelecehan seksual, hingga transplantasi organ.

Pada hari yang sama, Kedutaan Besar China di Prancis mengeluarkan pernyataan sebagai penolakan atas resolusi tersebut.

Kedutaan menyebut resolusi tersebut dengan sengaja mencoreng nama China dan mencampuri urusan dalam negeri. Resolusi tersebut juga telah merusak hubungan kedua negara.

Menolak istilah "genosida", kedutaan menyebutnya sebagai prasangka dan tindakan permusuhan terhadap China.

"China telah mengadakan dialog yang kuat dengan Prancis mengenai masalah ini pada banyak kesempatan dan di berbagai tingkatan, dan memperjelas dan serius bahwa masalah terkait Xinjiang bukanlah masalah etnis, agama atau hak asasi manusia, tetapi anti-terorisme, deradikalisasi dan masalah anti-separatisme, yang berkaitan dengan kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan nasional China," kata pernyataan itu.

Resolusi serupa disahkan oleh parlemen di Inggris, Kanada, dan Belanda pada tahun lalu.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya