Berita

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie/Net

Politik

Jerry Massie: Memang Saham 100 M Kaesang Tidak Masuk Akal, Usahanya Saja Banyak yang Gagal

SELASA, 11 JANUARI 2022 | 16:38 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Laporan Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun atas dugaan pencucian uang dua anak Presiden Joko Widodo harus ditindaklanjuti dengan baik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie tidak ingin laporan itu didiamkan oleh KPK. Jika sudah ada bukti kuat tentang dugaan tindak pidana pencucian uang, maka yang bersangkutan harus diproses hukum.

“Semua sama di mata hukum, mau anak presiden atau siapa, jika ada keterlibatan salam dugaan pencucian uang, maka harus diproses sesuai perbuatannya,” tegasnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (11/1).

Aspek praduga tak bersalah memang tetap harus dikedepankan. Hanya saja, Jerry Massie tidak ingin ada intervensi dan intimidasi.

“Anak mendiang Presiden Soeharto pernah dilaporkan, tapi kasus lain bukan laporan dugaan pencucian uang, melainkan pembunuhan Hakim Agung. Nah artinya kan bisa dilaporkan sampai diproses,” sambungnya.

Di satu sisi, Jerry Massie juga merasa aneh dengan asal muasal uang putra bungsu Kaesang Pangarep. Sebab pembelian saham frozen food senilai Rp 92 miliar merupakan jumlah yang tidak kecil.

“Memang saham Rp 100 miliar Kaesang tak masuk akal, usahanya saja banyak yang gagal terus, dari mana uang itu? Ini yang perlu diusut KPK,” tutupnya.

Aktivis 98 yang juga merupakan Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun melaporkan dua putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep. Laporan ini terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi dan atau tindak pidana pencucian uang (TPPU) berkaitan dengan dugaan KKN relasi bisnis anak presiden dengan grup bisnis yang diduga terlibat pembakaran hutan

Ubedilah menjelaskan, laporan ini berawal dari 2015 terdapat perusahaan besar PT SM yang sudah menjadi tersangka pembakaran hutan dan sudah dituntut oleh Kementerian Lingkungan Hidup dengan nilai Rp 7,9 triliun.

"Tetapi kemudian oleh MA dikabulkan hanya Rp 78 miliar. Itu terjadi pada Februari 2019 setelah anak presiden membuat perusahaan gabungan dengan anak petinggi perusahaan PT SM," ungkap Ubedilah.

Menurut Ubedilah, dugaan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) tersebut sangat jelas. Karena tidak mungkin perusahaan baru yang merupakan gabungan dari kedua anak Presiden yakni Gibran dan Kaesang bersama dengan anak petinggi PT SM mendapatkan suntikan dana penyertaan modal dari perusahaan Ventura yang juga berjejaring dengan PT SM.

"Dua kali diberikan kucuran dana. Angkanya kurang lebih Rp 99,3 miliar dalam waktu yang dekat. Dan setelah itu kemudian anak presiden membeli saham di sebuah perusahaan yang angkanya juga cukup fantastis Rp 92 miliar," ucap Ubedilah.

"Dan itu bagi kami tanda tanya besar,” tutupnya.

Populer

Hampir 2 Bulan Kosong, Presiden Jokowi dan Panglima TNI Disarankan Segera Tunjuk Pangkostrad Baru

Kamis, 13 Januari 2022 | 01:58

Ketua Umum HMI: Pelaporan Balik Terhadap Ubedilah Badrun Adalah Tindakan Salah Kaprah dan Bodoh

Minggu, 16 Januari 2022 | 07:17

Otto Hasibuan: Pertamina Menang Gugatan Rp 1,5 T dan 23 Juta Dolar AS Kasus Tumpahan Minyak Teluk Balikpapan

Sabtu, 22 Januari 2022 | 12:57

Rizal Ramli: Pakde Jokowi, Tolong Jelaskan Siapa Akan Tinggal di Ibu Kota Negara Baru?

Senin, 17 Januari 2022 | 22:04

Soal Deklarasi Prabowo-Jokowi, Pengamat: Jika Maju Cawapres, Makin Kuat Jokowi Beda Kelas dengan SBY

Sabtu, 15 Januari 2022 | 17:54

Pesan untuk Ubedilah Badrun, Adhie Massardi: Bersiaplah Hadapi Segala Hal yang Tidak Masuk Akal Sekalipun

Minggu, 16 Januari 2022 | 06:55

Dosen UAI: Pelaporan Ubedilah Badrun Sepertinya untuk Menekan agar Cabut Laporan

Senin, 17 Januari 2022 | 08:27

UPDATE

Prof Kaelan UGM: Sistem Hukum Indonesia Sudah Murtad dari Pancasila

Minggu, 23 Januari 2022 | 18:28

Jamin Keamanan PTM, Binda Bali Gencar Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

Minggu, 23 Januari 2022 | 18:07

Sempat Kabur Saat Kecelakaan, 100 Monyet Lab Berhasil Ditangkap Kembali

Minggu, 23 Januari 2022 | 17:58

Usik Harga Diri Masyarakat Kalimantan, Edy Mulyadi Didesak Cabut Pernyatan Lokasi IKN "Tempat Jin Buang anak"

Minggu, 23 Januari 2022 | 17:54

Bantah Klaim Inggris, Rusia Tegas Tidak Mencoba Gantikan Pemimpin Ukraina

Minggu, 23 Januari 2022 | 17:49

Etalase Industri Olahraga Nasional, Even MotoGP Mandalika Diharapkan Hasilkan Rp 500 Miliar

Minggu, 23 Januari 2022 | 17:39

Soal “Macan Mengeong”, Prabowo Tidak Akan Marah pada Sekjen GNPF Ulama

Minggu, 23 Januari 2022 | 17:34

Tafsir Lukisan SBY, Benny Harman: Terkandung Pesan 2024 Kursi Presiden Kosong

Minggu, 23 Januari 2022 | 17:23

Balad Jarwo Deklarasi Dukung untuk Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

Minggu, 23 Januari 2022 | 17:15

Pengakuan Guntur Soekarno, Megawati Jagoan Main Bola

Minggu, 23 Januari 2022 | 16:59

Selengkapnya