Berita

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono sering melontarkan catatan kritis terkait penanganan pandemi Covid-19/RMOL

Politik

Evaluasi 2021, Demokrat Minta Pemerintah Terbuka dengan Kritik Rakyat!

JUMAT, 31 DESEMBER 2021 | 15:57 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Tahun 2021 merupakan tahun yang cukup sulit bagi bangsa Indonesia karena mengalami perubahan drastis akibat pandemi virus corona baru (Covid-19).

Sejalan dengan itu, Pemerintah mestinya tidak anti dengan kritik dari rakyat Indonesia terhadap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Koordinator Jurubicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan, hampir 1,5 tahun rakyat bingung dan menghadapi kesulitan luar biasa, dari terancam nyawa karena Covid-19, hingga memburuknya kondisi ekonomi.


Kata Herzaky, seharusnya Pemerintah fokus pada upaya bagaimana rakyat bisa terhindar dari bencana Covid-19. Apalagi, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengingatkan bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa manusia.

"Pemerintah lebih terbuka dalam menerima masukan dan kritikan terkait kebijakan yang diambil. Semua elemen bangsa ini, baik di dalam maupun di luar pemerintahan, punya tujuan yang sama," tegas Herzaky dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (31/12).

Dijelaskan Herzaky, dengan cara terbuka menerima kritik, Indonesia akan bisa keluar dari pandemi. Termasuk, dampak yang ditimbulkan tidak terlalu besar.

"Seharusnya dampak Pandemi ini bisa kita lebih minimalisir, jika Pemerintah sejak awal terbuka dengan masukan dari akademisi, kalangan masyarakat sipil, dan partai politik yang berada di luar pemerintahan," katanya.

Menurutnya, Pemerintah jangan menunggu situasi memburuk lalu baru mendengarkan kritik masyarakat.

"Sudah ratusan ribu nyawa rakyat Indonesia yang menjadi korban, baru pemerintah berubah," cetusnya.

Lebih lanjut, Kepala Bakomstra DPP Partai Demokrat ini meminta pemerintah tidak mencari keuntungan di tengah krisis akibat pandemi Covid-19 hingga adanya varian baru omicron.

"Akan timbul ketidakpercayaan publik yang tinggi atas setiap kebijakan yang diambil, karena ada satu dua pejabat publik yang tersangkut kasus bisnis di seputar pandemi," pungkasnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya