Berita

Ketua Barisan Merah Putih (BMP) Provinsi Papua, Max Abner Ferdinan Ohee/Ist

Politik

PAW Wagub Papua Tak Kunjung Ada Kejelasan, Presiden Diminta Turun Tangan

RABU, 22 DESEMBER 2021 | 11:30 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Proses Pergantian Antar Waktu (PAW) Wakil Gubernur Papua hingga kini masih jalan di tempat. Untuk itu Presiden Joko Widodo diminta segera turun untuk menyelesaikan proses yang tak kunjung selesai ini.

"Keberadaan Wagub Papua saat ini sangat dibutuhkan, untuk membantu tugas-tugas Gubernur Papua yang kondisi kesehatannya belum fit 100 persen," ujar Ketua Barisan Merah Putih (BMP) Provinsi Papua, Max Abner Ferdinan Ohee, melalui keterangannya, Minggu (19/12).

Mac menambahkan, sesuai dengan amanat Pasal 176 UU Nomor 10/2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 1/2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, ada beberapa persoalan yang harus diselesaikan.


Rekomendasi dari DPP partai politik koalisi Lukmen Jilid 2, dalam hal ini PKB dan PPP, harus segera dikeluarkan agar memenuhi persyaratan pengajuan dari partai pendukung.

Saat ini Kenius Kogoya dan Yunus Wonda menjadi dua nama yang telah diusulkan oleh Gubernur Papua dalam Partai Koalisi Lukmen. Namun, ada 2 parpol yang mengajukan nama calon lain. Yaitu Partai Golkar mengajukan Paulus Waterpauw dan Partai Nasdem mengajukan Befa Yigibalom.

Kemudian, DPRP harus mengadakan rapat paripurna dan membuat surat usulan tentang pemberhentian alm Klemen Tinal sebagai Wagub Papua ke Presiden c/q Mendagri.

Saat presiden sudah menandatangani surat pemberhentian itu dan dikirimkan ke Gubernur Papua dan DPR Papua.

Selanjutnya, DPR Papua membentuk Pansus dan melaksanakan pemilihan Wagub Papua PAW itu. DPRP telah menerima surat dari Mendagri dalam hal ini Dirjen Otda memerintahkan DPRP untuk melakukan Rapat Paripurna berhalangan tetap.

Sesuai mekanisme Dewan, setiap surat yang masuk harus dijawab, dan Badan Musyawarah yang akan memutuskan untuk membalas surat itu.

"Saya sebagai Ketua Barisan Merah Putih Papua mengamati jika Presiden RI ataupun Menko Polhukam tidak turun tangan dalam menyelesaikan proses pemilihan Wagub Papua PAW ini, bisa-bisa sampai habis masa jabatan Gubernur Papua, tidak akan ada Wagub Papua yang menggantikan alm Bapak Klemen Tinal," paparnya, dikutip Kantor Berita RMOLPapua.
 
"Jika hal ini terjadi, itu adalah suatu kondisi yang buruk bagi pembangunan demokrasi dan penegakan undang-undang di tanah Papua," tambahnya.

Menurutnya, masalah utama dari terhambatnya proses pemilihan Wagub Papua PAW ini adalah karena perbedaan nama yang diusulkan oleh partai-partai koalisi pendukung Lukmen Jilid II.

Perbedaan dari nama yang diusulkan ini adalah hal yang wajar sebagai sebuah dinamika dalam demokrasi.

Nah, solusinya adalah voting. Karena 7 partai pendukung koalisi Lukmen Jilid II setuju dengan nama yang diusulkan oleh Gubernur Papua dan 2 nama tidak setuju. Yang masih ditunggu adalah dukungan dari DPP PKB dan DPP PPP.

"Masyarakat Papua sudah lama menunggu bagaimana proses dari pemilihan Wagub Papua ini, berbagai asumsi dan prasangka muncul. Oleh karena itu, Pemerintah Pusat harus bisa ikut membantu menyelesaikan proses ini secepatnya, agar Pemerintahan di Provinsi Papua dapat berjalan secara baik untuk membangun Papua dan mensejahterakan masyarakat Papua," demikian Max.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Pajak Karbon Motor Bensin Bisa Tekan Emisi dan Ketergantungan Impor BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:25

Istana Sampaikan Duka Cita atas Gempa NTT, Gerak Cepat Lakukan Penanganan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:19

Gempa NTT: Gudang Bulog Hancur, Manggarai Butuh 30 Ton Beras

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:02

Akses Jalan Rusak, Komisi V DPR Minta Evakuasi Via Udara Jangkau Korban Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:00

Gempa NTT, Komisi V DPR Minta BMKG-Basarnas Konsolidasikan Bantuan SAR dari Provinsi Terdekat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:55

Persiapan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Capai 99 Persen

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:52

Update Gempa NTT: 14 Warga Meninggal Dunia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:41

Purbaya Sebut Dana Transfer ke Daerah Naik Jadi Rp735 Triliun Tahun Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:38

Komisi V DPR Minta BMKG Aktif Update Situasi Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:32

Terkuak! Alasan Kapal Pesiar Mewah Haji Isam Dipasangi Logo Kemhan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:17

Selengkapnya