Berita

Politikus Libya, Mustafa Ben Halim/Net

Dunia

Mengenang Tokoh Besar Libya, Mustafa Ben Halim yang Meninggal dalam Usia 100 Tahun

KAMIS, 09 DESEMBER 2021 | 07:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Seminggu sudah Libya kehilangan sosok politisi yang pernah menjadi kebanggaan negara itu. Orang kepercayaan Raja Libya ini memiliki andil besar dalam pembangunan Libya karena perannya dalam rekonstruksi negara tersebut setelah Perang Dunia Kedua dan pendudukan Sekutu.

Mustafa Ahmed Ben Halim, mantan perdana menteri selama periode monarki konstitusional Kerajaan Libya yang dipimpin oleh Al-Senussi, meninggal pada 4 Desember lalu dalam usia 100 tahun.

Dari laporan Al Arabiya, Rabu (8/12) keluarganya mengatakan Ben Halim meninggal dunia di Uni Emirat Arab.


Selama era pemimpin Muammar Gaddafi, Ben Halim dilarang memasuki Libya. Ben Halim dan keluarga tinggal di Eropa semenjak kudeta militer Libya pada September 1969 dan tidak kembali lagi sampai jatuhnya rezim Gaddafi pada tahun 2011.

Ben Halim lahir pada tahun 1921 di Alexandria, Mesir, setelah ayahnya ditangkap oleh Italia. Ia belajar teknik di Mesir dan lulus pada tahun 1946, sebelum kembali ke negara asalnya Libya.

Ben Halim adalah perdana menteri ketiga Libya setelah kemerdekaannya pada tahun 1951, dan ditugaskan untuk membentuk pemerintahan pada tahun 1954 sebelum mengajukan pengunduran dirinya pada tahun 1957.

Dia sebelumnya bertanggung jawab atas Kementerian Transportasi dan Kementerian Luar Negeri sebelum diangkat sebagai Perdana Menteri.

Selama menjadi Perdana Menteri, Ben Halim memprioritaskan membangun hubungan dan aliansi dengan Barat, terutama Inggris Raya, Amerika Serikat, dan Prancis. Karena hubungan ini, Ben Halim dapat memperoleh bantuan untuk Libya dari Inggris Raya dan Amerika Serikat pada saat ketegangan Perang Dingin meningkat

Bin Halim juga memegang posisi kepemimpinan di Kementerian Perhubungan hingga Desember 1954, kemudian mengambil alih Kementerian Luar Negeri.

Setelah pengunduran dirinya, Raja Libya mengangkatnya sebagai penasihat khusus dengan gaji Perdana Menteri. Kemudian dia dikirim ke Paris untuk mengambil alih misi duta besar Libya untuk Prancis dari tahun 1958 hingga 1960, menjadi duta besar pertama Libya di Paris.
Setelah itu, Bin Halim menjauh dari aktivitas politik dan mengalihkan fokusnya ke kewirausahaan, tetapi pada musim semi 1964 Raja Idris memanggilnya untuk memintanya membantunya mereformasi struktur negara Libya, tetapi kegagalan reformasi ini mendorongnya. Dia harus menjauh dari politik lagi.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya