Berita

Jusuf Kalla dalam Halaqoh Satu Abad NU bertema "Gagasan Kontributif Membangun Kemandirian Ekonomi Nahdliyyin" di Kantor DPP PKB, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (2/12).

Politik

Jusuf Kalla: Beda dengan Muhammadiyah, Tata Kelola NU Mirip Franchise

KAMIS, 02 DESEMBER 2021 | 15:23 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Organisasi Masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) tidak ubahnya sebuah franchise besar yang memiliki banyak cabang, tetapi aset-asetnya dimiliki individu yang berbeda-beda.

Perumpamaan itu disampaikan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Halaqoh Satu Abad NU bertema "Gagasan Kontributif Membangun Kemandirian Ekonomi Nahdliyyin" di Kantor DPP PKB, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (2/12).

Aset-aset NU, kata JK, berbeda sama sekali dengan apa yang dikelola Muhammadiyah di mana setiap aset mulai aset pendidikan sampai kesehatan semuanya menjadi milik organisasi.


"Tadi disampaikan bahwa ribuan pesantren di INA (Indonesia) sebagian besar dimiliki oleh NU. Bukan milik NU tapi milik orang NU, ada bedanya," kata JK.

"Berbeda dengan Muhamadiyah, kalau Muhammadiyah rumah sakit, sekolah itu milik Muhammadiyah, arsip Muhammadiyah, tapi kalau NU milik para kiai orang NU," sambungnya.

Tata kelola NU, lanjut JK, mirip seperti franchise waralaba makanan cepat saji McDonald's. Di mana, perusahaan besar asal Amerika Serikat itu bisa dikenal di seluruh penjuru dunia.

"Jadi saya sering minta maaf saya katakan, kalau NU itu kaya franchise, McDonald's. Semua McDonald's itu adalah yang punya beda-beda. Kalau Muhammadiyah murni holding company, dari atas sampai ke bawah dia punya sendiri," terangnya.

Meski begitu, lanjut Mustasyar PBNU ini, warga Nahdliyyin sebetulnya memiliki satu kebanggaan yakni bagaimana jiwa berwirausaha mampu membangun ribuan pesantren secara mandiri.

"Saya bilang orang-orang NU itu entrepreneurshipnya itu tinggi. Karena bisa dirikan pesantren ribuan," pungkasnya.

Acara yang dibuka Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar ini dihadiri ekonom senior Rizal Ramli dan kader PKB di DPR RI.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya