Berita

Presiden Joko Widodo saat mencium tangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri/Net

Publika

Jangan Percaya PollsterRp

Oleh: Tri Wibowo Santoso*
KAMIS, 25 NOVEMBER 2021 | 10:44 WIB

JANGAN percaya pollsterRp. PollsterRp adalah Lembaga survey politik (pollster) yang menjual kredibilitas keilmuannya hanya untuk sekedar cari makan (Rp). Di Indonesia, hampir seluruh Lembaga survey politik besar masuk ke dalam jenis pollsterRp.

Saya akan berikan contoh kasus bagaimana lembaga-lembaga survey membongkar jati dirinya sebagai pollsterRp.

Contoh pertama. Kejadiannya pada saat menjelang Pilpres 2014. Cukong-cukong besar mulai membiayai lembaga-lembaga survey agar Jokowi dapat dicalonkan PDI-Perjuangan sebagai calon presiden.


Kabarnya saat itu LBP biayai tiga lembaga survey. Eddy Saryaatmadja biayai tiga lembaga survey. Dan tiga lembaga survey lainnya dibiayai oleh James Riyadi. Total sembilan lembaga survey.

Jadi taktik pollsterRp ini adalah dengan jalan memanipulasi pimpinan PDI-Perjuangan. Mereka dengan gencar melobby para petinggi PDI-Perjuangan agar mencalonkan Jokowi sebagai capres. Dikatakan bahwa bila PDI Perjuangan mencalonkan Jokowi maka akan mendapatkan Jokowi Effect. Jokowi effect ini disebut-sebut akan mengatrol suara PDI-Perjuangan naik hingga 35 persen suara DPR.

Faktanya, ternyata perolehan suara PDI-Perjuangan di 2014 hanya 18,95 persen. Tidak sampai 35 persen seperti disebut-sebut oleh para pollsterRp. Selisih suara PDI-Perjuangan antara proyeksi pollsterRp dan hasil yang sebenarnya mencapai 17 persen. Bila dibagi dengan margin of error 2,5 persen, maka kesalahan prediksi pollsterRp sekitar tujuh kali lipat dari margin of error.

Tapi mungkin karena akhirnya Jokowi tetap menang Pilpres 2014. Manipulasi bertemakan “Jokowi Effect” oleh para pollsterRp tidak begitu dihiraukan oleh petinggi PDI-Perjuangan saat itu.

Contoh kedua. Terjadi pada saat Pilkada DKI tahun 2017. Saat itu cukong-cukong yang sama memutuskan untuk memenangkan Ahok. Dikatakan oleh pollsterRp, pada putaran kedua Ahok akan menang dari Anies dengan selisih suara 2 hingg 4 persen

Faktanya jauh sekali. Pada putaran kedua Pilkada DKI tahun 2017, Anies mendapatkan suara 57,9 persen, sementara Ahok hanya mendapatkan suara 42 persen. Selisihnya dari prediksi pollsterRp adalah 15,9 persen ditambah 2 hingga 4 persen atau total sekitar 18 hingga 20 persen.

Bila dibagi dengan margin of error 2,5 persen, maka kesalahan prediksi para pollsterRp mencapai delapan kali lipat dari margin of error.

Dalam ilmu statistik, bila terjadi kesalahan proyeksi hingga 1 margin of error itu lumrah. Namun bila kesalahan proyeksi mencapai hingga 7 hingga 8 kali margin of error dan berulang, itu jelas tidak wajar.

Dapat diduga bahwa terjadi rekayasa data atau manipulasi lainnya dalam melakukan proyeksi hasil survey yang sangat jauh melenceng tersebut. Dan kita tahu, atas nama uang (Rp) segala rekayasa dan manipulasi tentu sangat mungkin terjadi.

Dan kini, para pollsterRp ramai-ramai mengatrol elektabilitas Ganjar Pranowo sebagai capres. Kita bisa melihat dengan jelas ke mana para cukong yang biasa membiayai pollsterRp sekarang berpihak. Dikatakan oleh pollsterRp bahwa elektabilitas Ganjar sudah mencapai belasan persen. Apa benar? Sangat meragukan!

Karena bila menggunakan asumsi bahwa manipulasi yang serupa di tahun 2014 dan 2017 juga dilakukan saat ini (kesalahan 7 hingga 8 kali margin of error), maka elektabilitas Ganjar yang sebenarnya mungkin hanya sebesar 2 persen.

Penulis adalah Direktur Eksekutif IndoParameter

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya