Berita

Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping/Net

Dunia

Revisi "Menghentikan" Jadi "Mengurangi" Batubara di COP26, China dan India Harus Berikan Penjelasan

SENIN, 15 NOVEMBER 2021 | 11:22 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Hasil konferensi perubahan iklim atau COP26 dinilai telah mengecewakan banyak pihak. Salah satu poin yang disoroti adalah revisi mengenai pengendalian batubara.

Berdasarkan kesepakatan dalam COP26 di Glasgoq, Skotlandia yang berakhir pada Sabtu (13/11), negara-negara sepakat untuk mengurangi penggunaan batubara secara bertahap, alih-alih menghentikannya secara bertahap.

Perubahan itu dilakukan atas inisiasi dari China dan India. India, yang didukung oleh China dan sejumlah negara berkembang lainnya yang bergantung pada batubara, menolak klausul "penghapusan secara bertahap".


Melihat hal tersebut, Presiden COP26 Alok Sharma pada Minggu (14/11) mengatakan, China dan India perlu memberikan penjelasan mengenai perubahan bahasa yang dinilainya lebih lunak terhadap penggunaan batubara.

"Dalam hal China dan India, mereka harus menjelaskan masalah khusus ini," kata Sharma pada konferensi pers di Downing Street di London, seperti dikutip Reuters.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tampaknya tidak mempermasalahkan perubahan bahasa tersebut.

"Apakah bahasa itu 'bertahap' atau 'berhenti' tampaknya bagi saya sebagai penutur bahasa Inggris tidak membuat banyak perbedaan. Arah perjalanannya hampir sama," ujar Johnson.

Johnson mengatakan COP26 telah menyampaikan mandat untuk memotong penggunaan pembangkit listrik tenaga batubara yang didukung oleh tindakan nyata dari masing-masing peserta.

"Ketika Anda menambahkan semua itu bersama-sama, tidak diragukan lagi bahwa Glasgow telah membunyikan lonceng kematian bagi tenaga batubara," katanya pada konferensi pers.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Selain Anak Buah Nusron, KPK Benarkan Tangkap Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 00:25

Laut Bukan Tempat untuk Mati

Selasa, 15 September 2026 | 00:01

APKARINDO Perjuangkan Ksejahteraan Petani hingga Kejayaan Karet Rakyat

Senin, 14 September 2026 | 23:42

Anak Buah Nusron Kena OTT KPK Terkait Pengurusan HGB Summarecon

Senin, 14 September 2026 | 23:22

DPR Soroti Usia Kapal dan Kepatuhan Aturan Impor dalam Tragedi Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 23:02

Pemerintah Bahu Membahu Cegah Karhutla Masuk Zona Inti IKN

Senin, 14 September 2026 | 23:01

Pemilik Laundry Sukses Kembangkan Usaha dari Mekaar jadi BRILink Agen

Senin, 14 September 2026 | 22:38

OTT KPK Makin Mengerucut, Fahd A Rafiq hingga Bos Summarecon Dikabarkan Terjaring

Senin, 14 September 2026 | 22:37

Ketua KPK Benarkan OTT Pejabat ATR/BPN, Daftar Nama Belum Diungkap

Senin, 14 September 2026 | 21:59

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Selengkapnya