Berita

Pupuk produksi Pupuk Indonesia/Net

Politik

Penyerapan Pupuk di Jateng Sangat Rendah, Kementan dan PIHC Jangan Main Mata

JUMAT, 12 NOVEMBER 2021 | 17:21 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Data penyerapan pupuk di Indonesia sampai awal November 2021 ini masih di angka 32,86 persen. Rendahnya persentase nasional tersebut disebabkan karena buruknya penyerapan pupuk di Jawa Tengah yang hanya mencapai 3,42 persen sebagaimana diumumkan dalam website htpp://pupuk.litbang.pertanian.go.id.

Komunikolog Politik Nasional Tamil Selvan, sejak awal menduga adanya permainan pengalokasian pupuk di Jawa Tengah pasca Ketua DPRD Jawa Tengah meminta agar subsidi pupuk dicabut, angkat bicara. Pria yang akrab disapa Kang Tamil ini mengatakan bahwa tidak masuk akal jika penyerapan pupuk serendah itu, sementara saat ini sudah memasuki akhir tahun.

"Secara data ada 1,9 juta ton pupuk dalam berbagai jenis yang dialokasikan ke Jawa Tengah, namun yang diserap baru 68 ribu ton. Ini konyol namanya. Emang sudah tidak ada petani di Jateng? Ini membuktikan bahwa kecurigaan kami tentang adanya mafia pupuk benar adanya. Kementan dan PIHC jangan saling main mata," jelas Ketua Forum Politik Indonesia ini kepada wartawan di Jakarta, Jumat (12/11).


Kang Tamil mengatakan bahwa data temuan yang didapatkan oleh timnya di lapangan menyebutkan ada 16,5 ribu ton pupuk urea yang di poskan hanya di satu toko, dan sampai saat ini penyerapannya hanya 3 ton.

"Data kami dilapangan bahwa di Bulukerto Utara yang merupakan desa kecil, bisa dialokasikan 16,5 ribu ton urea, dan hanya di 1 toko. Jumlah itu sangat tidak balance dengan plasma petani disana, jadi indikasi permainan ini kental sekali," ujarnya.

Dirinya juga menambahkan bahwa banyaknya ketidaksesuaian dana NIK pada RDKK yang bisa diperbaiki dalam E-Verval merupakan celah penyelewengan pupuk subsidi untuk dialihkan kepada korporasi.

"Jadi seolah perbaikan di E-verval itu adalah solusi, padahal itu adalah celah permainan yang sangat kontras. Saya kira Kementan dan PIHC harus segera menjelaskan ketimpangan yang terjadi di Jawa Tengah ini," tutupnya.



Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya