Berita

Presiden kulit putih terakhir Afrika Selatan, F.W. de Klerk/Net

Dunia

Beberapa Jam Setelah Kematiannya, Presiden Kulit Putih Terakhir Afsel Sampaikan Permintaan Maaf

JUMAT, 12 NOVEMBER 2021 | 12:00 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Presiden kulit putih terakhir Afrika Selatan, F.W. de Klerk menyampaikan permintaan maaf atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan terhadap orang-orang kulit berwarna.

Permintaan maaf itu disampaikan de Klerk melalui sebuah video yang dirilis oleh yayasannya di situs webnya beberapa jam setelah kematiannya pada Kamis (11/11).

"Saya, tanpa kualifikasi, meminta maaf atas rasa sakit, penghinaan, dan kerusakan yang telah dilakukan apartheid terhadap orang kulit hitam, coklat, dan India di Afrika Selatan," ujar pria 85 tahun itu, seperti dikutip Reuters.


Dalam pesannya, de Klerk juga memperingatkan bahwa Afrika Selatan menghadapi banyak tantangan serius.

"Saya sangat prihatin dengan meruntuhkan banyak aspek Konstitusi, yang kita lihat hampir setiap hari," ucap dia.

Belum diketahui kapan rekaman video itu dibuat.

Awal tahun ini, de Klerk didiagnosis menderita kanker. Ia dipandang sebagai politisi yang merundingkan transfer kekuasaan secara damai dari pemerintahan minoritas kulit putih ke pemerintahan demokratis mayoritas kulit hitam yang dipimpin oleh Nelson Mandela.

Ia juga berbagi Hadiah Nobel Perdamaian dengan Mandela pada 1993.

Namun di Afrika Selatan, banyak yang melihatnya sebagai sosok kontroversial yang menunjukkan sedikit penyesalan atas kejahatan yang dilakukan selama rezim apartheid.

"Memang benar bahwa di masa muda saya, saya membela pembangunan yang terpisah. Saya melakukannya ketika saya menjadi anggota Parlemen, dan saya melakukannya ketika saya menjadi anggota kabinet," kata de Klerk.

"Setelah itu, dalam banyak kesempatan, saya meminta maaf atas rasa sakit dan penghinaan yang dibawa apartheid kepada orang-orang, kepada orang kulit berwarna di Afrika Selatan. Banyak yang mempercayai saya, tetapi yang lain tidak," pungkasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya