Berita

Anggota Komisi VI DPR RI, Nusron Wahid saat mengusulkan KPPU lakukan penyelidikan terkait mahalnya harga PCR/Repro

Politik

Harga PCR Mahal, Nusron Wahid Minta KPPU Lakukan Penyelidikan

SELASA, 09 NOVEMBER 2021 | 14:28 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Belakangan tingginya harga PCR disorot publik. Merespons hal itu, anggota Komisi VI DPR RI Nusron Wahid mendorong Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan penyelidikan.

Menurut Nusron, perlu ada rujukan yang kredibel mengenai harga PCR. Sebab saat ini terlanjur beredar asumsi adanya pihak yang mengambil untung dari situasi pandemi virus corona baru (Covid-19).

Mantan Ketua Umum GP Ansor itu mengatakan Dirut Holding BUMN farmasi perlu menjelaskan secara transparan berapa harga pokok produksi alat tes PCR.


Kata Nusron, pernyataan politisi Gerindra Andre Rosiade tentang harga alat tes PCR bisa di bawah Rp 200 ribu perlu ditindaklanjuti.

"Apa benar yang disampaikan oleh Uda Andre (Rosiade) tadi, bahwa harga PCR bisa dibawah Rp 200 ribu? Kalau benar kenapa bisa mahal? Coba jelaskan versi BUMN Farmasi," demikian disampaikan Nusron Wahid dalam RDPU Komisi VI DPR dengan BUMN Farmasi, Selasa (9/11).

Hadir dalam RDPU tersebut Dirut PT Biofarma Hanesti Basyir, Dirut PT Indofarma Arif Pramuhanto, Dirut Kimia Farma Verdy Budidarmo,  dan Dirut PT Phapros Hadi Kardoko.

Menurut Nusron, mahalnya harga PCR di luar harga kewajaran perlu dipastikan apakah ada praktik usaha yang tidak sehat, baik indikasi monopoli atau kartel yang bermain.

Apalagi, dalam UU 5/1999 telah mengatur tentang larangan praktik usaha yang tidak sehat dan monopoli.

Nusron pun mengusulkan agar Komisi VI DPR RI mengagendakan rapat bersama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Tujuannya, untuk melakukan pemeriksaan apakah ada indikasi permainan kartel dan monopoli.

"Karena itu atas nama hak konstutusional, saya minta pimpinan Komisi VI untuk mengagendakan rapat dengan KPPU untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan," terang Nusron.

Dalam RDPU tersebut, Nusron pun mencecar BUMN Farmasi mengenai berapa persen BUMN Holding melayani PCR.

Dari pertanyaan itu, terungkap bahwa dari 48 juta spesimen sampai hari ini, Holding BUMN Farmasi melayani 20-22 persen spesimen. Selebihnya dilakukan oleh swasta.

"Jadi yang 80 persen swasta ya? Artinya dominasi permainan di swasta ya," cecar Nusron.

"Ya Pak Nusron," jawab Honesti.

Nusron lalu menyampaikan pengalamannya yang pernah terkena Covid-19 pada bulan November 2020 lalu.

Ia mengatakan, setiap dia melakukan PCR biayanya Rp 4,5 juta. Lalu pada perkembangannya, atas instruksi Presiden Joko Widodo harga PCR bisa turun, mulai dari angka satu jutaan, dan kini di bawah Rp 500 ribu.

Terakhir, Presiden Jokowi minta harga PCR maksimal Rp 300 ribu  dan untuk Jawa-Bali Rp 275 ribu.

"Sebenarnya BPP PCR yang sebenarnya berapa, menurut versi BUMN Farmasi ini?" tanya Nusron.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya