Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

China dan Sri Lanka Saling Serang Gara-gara Pupuk, India Ketiban Untung

SABTU, 06 NOVEMBER 2021 | 09:25 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pertengkaran hebat meletus antara China dan Sri Lanka yang dipicu oleh pupuk. Sri Lanka yang merupakan pengimpor pupuk China baru-baru ini telah menghentikan pembeliannya dan memblokir produk buatan negeri tirai bambu itu.

Semua berawal ketika Layanan Karantina Tumbuhan Nasional Sri Lanka menemukan dua sampel pupuk China telah terkontaminasi dengan bakteri berbahaya.

Akibatnya, Sri Lanka menghentikan kesepakatan pembelian pupuk senilai 42 juta dolar AS dari China. Pengadilan tinggi Sri Lanka juga melarang pembayaran ke Qingdao Seawin Biotech Group.


Kemudian pada Oktober, Sri Lanka melarang kapal China membawa pupuk organik. Otoritas juga mengeluarkan perintah untuk mencegah pembongkaran pupuk China di pelabuhan mana pun karena kekhawatiran bahwa penggunaan pupuk akan menyebabkan kontaminasi tanah dan tanaman negara.

Sebagai balasan, Kedutaan Besar China di Kolombo mengumumkan bahwa Beijing telah memasukkan bank Sri Lanka ke daftar hitam.

Kedubes China juga mengeluarkan pernyataan yang memberikan dukungan kepada perusahaannya.

Kementerian Perdagangan China menyebut langkah Sri Lanka telah menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan China.

Dikutip dari India Narrative, insiden tersebut membuat Sri Lanka mencari pemasok pupuk lain untuk memenuhi kebutuhannya, salah satunya dari India. Sri Lanka dilaporkan telah mengimpor 3,1 juta liter pupuk cair Nano Nitrogen berkualitas tinggi dari India.

India sendiri menjadi penerima manfaat utama dari perselisihan antara Sri Lanka dan China yang bukan kali ini terjadi. Baru-baru ini Kolombo memberikan kesepakatan pelabuhan kepada Grup Adani.

Ini menunjukkan upaya Sri Lanka untuk meningkatkan hubungan perjalanan, perdagangan dan pertahanannya dengan India melalui kunjungan tingkat tinggi oleh kedua belah pihak.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya