Berita

Ilustrasi petugas pemeriksaan Covid-19/Net

Dahlan Iskan

PCR Normal

KAMIS, 04 NOVEMBER 2021 | 04:21 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

Dia cantik-5i.

Dia gembira-tidak perlu PCR yang mahal lagi, cukup antigen.

Dia mau ke Bali -ada acara keluarga.


Dia menelepon Garuda Indonesia, kemarin pagi. Dia langsung mengirim WA ke saya: "kok konfirmasi ke Garuda msh hrs pk PCR..??.duh negara apa ini ya?..buat rakyat bingung”

Saya pun tidak percaya WA SI Si itu. Saya hubungi staf yang ada di bandara. la staf dari perusahaan penerbangan. Saya sampaikan keluhan Si 5i -yang juga seorang dokter itu.

Jawaban dari bandara itu saya teruskan ke Si Si. Agar tidak kehilangan kecantikannya.

"Correction... ternyata memang belum Pak Dahlan..di lapangan masih tetap mengacu ke SE 88, artinya masih tetap menggunakan PCR.

Tanpa PCR lagi memang sudah diumumkan. Tapi baru lisan. Yang di bawah rupanya menganggap lidah itu tidak ber-Anda sudah tahu terusannya.

Kapan peraturan baru mulai berlaku?

"Meski pemerintah sudah memperbolehkan antigen kita tetap menunggu SE terbaru!"

Jadi, kapan mulai berlaku?

Mungkin mulai hari ini. Mungkin besok. Mungkin juga kapan-kapan. Tergantung kapan SE-nya sampai ke yang di bawah.

Staf di bandara itu semula juga mengira kemarin tidak perlu ada PCR lagi-untuk penerbangan seluruh Jawa Bali. la sudah sempat menjawab pertanyaan saya: "sudah berlaku" la masih dalam perjalanan ke bandara. Setiba di tempatnya bekerja ia sendiri baru tahu: masih belum berlaku. la pun menyusulkan jawaban koreksi tadi.

Begitulah. Atas dan bawah memang tidak sama. Tapi berita itu setidaknya sudah bisa membuat begitu banyak orang yang gembira. SE (surat edaran)-nya mungkin masih diketik. Tinggal dimintakan tanda tangan. Distempel. Lalu diberi nomor surat. Beres.

Mungkin SE itu akan keluar hari ini. Atau besok. Setidaknya pasti akan keluar.

Kalau tidak diralat.

Alasan untuk meralat bisa banyak. Misalnya, apakah itu tidak mengendurkan kewaspadaan? Terutama kalau dikaitkan dengan kemungkinan munculnya Covid gelombang tiga? Bukankah menurunkan ongkos PCR sudah cukup? Bukankah kita harus hati-hati?

Ongkos PCR memang sudah turun drastis: dari Rp 750.000 ke Rp 275.000. Atas perintah langsung dari Presiden Jokowi. Untuk luar Jawa dari Rp 800.000 ke Rp 300.000.

Presiden hampir selalu jadi pahlawan penurunan harga apa saja.

Saya sendiri, tahun ini, baru satu kali PCR. Rabu minggu lalu. Ketika harus ke sebuah bank di Jakarta. Untuk rapat keesokan harinya. Semua peserta rapatnya harus lulus PCR.

PCR itu saya lakukan secara drive through-di dalam kompleks Gelora Bung Karno. Sekalian makan siang di Plataran Hutan Kota yang ada di sebelahnya. Saya baru tahu: di dalam lahan GBK ternyata dibangun resto baru. Besar sekali. Indah sekali.

"Berapa?" tanya juru bayar saya. "Yang 16 jam atau 24 jam?"

Kalau hasilnya baru didapat 24 jam kemudian tentu terlambat.

"Yang 16 jam," jawab orang saya.

"Rp 750.000, jawab petugas.

"Kan sudah turun jadi Rp 275.000," ujar Si juru bayar.

"Itu baru berlaku besok," jawabnya.

Berarti saya kecepetan satu hari. Ya sudah. Belum rezeki.

Yang paling senang atas penurunan tarif PCR itu tentu Garuda Indonesia dan Citilink. Terutama Citilink. Anak perusahaan Garuda ini masih mampu terbang di banyak jam dan di banyak rute. Sudah jauh mengalahkan bapaknya.

Surabaya-Jakarta, misalnya, Citilink sudah bisa terbang 13 kali sehari. Garuda tinggal 3 kali sehari.

Citilink memang mampu membayar BBM ke Pertamina. Juga mampu membayar cicilan dan sewa pesawat. Sedang Garuda sudah serba sulit. Bukan saja menghadapi Pertamina, tapi juga pemasok yang lain. Terutama pemasok onderdil. Yang kini hanya mau kirim barang kalau dibayar kontan.

Lion Air hampir tidak terpengaruh oleh penurunan tarif PCR itu. Lion sudah mampu "menurunkan" sendiri. Sejak tiga bulan lalu. Itu karena Lion membeli sendiri bahan-bahan dan peralatan PCR/Antigen. Lalu menyerahkannya ke poliklinik yang ia tunjuk. Yakni klinik yang sudah dapat izin tes Covid dari pemerintah.

Di klinik-klinik itulah-di banyak kota Lion bisa memfasilitasi penumpangnya untuk PCR murah. Sudah Rp 275.000 sejak lama. Mungkin segera menjadi Rp 250.000. Agar tetap lebih murah dari ketentuan baru pemerintah. Begitulah "bocoran" yang saya dapatkan.

Selasa kemarin Lion sudah bisa menerbangkan 170 pesawat. Dengan jumlah penumpang sudah lebih 120.000 orang sehari itu.

Lion sudah hampir normal. Lion bisa curi start. Jakarta-Bali saja, hari itu, sudah 17 kali penerbangan. Dengan jumlah penumpang sudah melewati angka 6.000 orang.

Lion memang bisa kulakan PCR dengan harga normal: Rp 100.000 per kit. Tentu masih harus ditambah biaya-biaya lain: tenaga, ongkos kirim ke klinik-klinik, dan fee untuk klinik. Bisa jadi Lion justru masih bisa dapat untung dari PCR-nya 0 yang murah.

Tentu Lion tidak bisa menetapkan harga terlalu murah-bisa dikerdipi kanan-kiri-atas-bawah.

Tentu ada juga yang kurang senang atas penurunan tarif PCR itu. Bukan soal murahnya. Tapi soal "mengapa selama ini terlalu mahal". Medsos begitu riuh-rendah mempersoalkannya.

Saya kutipkan salah satu saja -yang tajamnya masih tergolong masih biasa-biasa saja:

"Realitas yang melumpuhkan akal sehat..Dari 3 jt, 1,5 jt, 880 rb, 500 rb, 300 rb ....akhirnya 0"

Tentu saya bangun jam 01.00 tadi malam. Sebelum nonton Liga Champions saya cek dulu perkembangan soal SE antigen: benar SE sudah keluar. Benar-benar sudah keluar. Maka saya susulkan perkembangan terbaru ini. Tidak hanya untuk Si Si. Dia sudah di Bali. Setidaknya dia masih perlu pulang.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya