Berita

Foto Disway

Dahlan Iskan

Bumi Panas

SELASA, 02 NOVEMBER 2021 | 04:14 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

GADIS 18 tahun ini menilai: para pemimpin negara di dunia belum dewasa. Buktinya, mereka tidak juga ambil putusan soal penanganan perubahan iklim. Padahal, katanyi, kondisi iklim sekarang ini sudah ibarat "rumah kita sedang terbakar".

Anda sudah tahu: dia adalah Greta Tintin Eleonora Ernman Thunberg. Lahir di Swedia, 3 Januari 2003.

Greta akan kembali jadi bintang dunia hari-hari ini. Yakni, ketika di Kota Glasgow, Skotlandia, sedang diselenggarakan KTT perubahan iklim. Mulai kemarin sampai minggu depan.


Presiden Jokowi ada di sana-setelah menghadiri KTT G20 di Roma, Italia. Joe Biden hadir. Barack Obama juga.

Di sanalah tokoh-tokoh dunia bakal memutuskan: langkah konkret apa yang akan dilakukan semua negara. Untuk mencegah terjadinya pemanasan global.

Presiden Tiongkok Xi Jinping tidak hadir. Inilah KTT yang menakutkannya: Tiongkok dianggap juara penyebab terjadinya pemanasan global. Tiongkok-meski sudah menghapus PLTU kecil-kecil masih dianggap belum cukup.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga tidak datang. la juga takut menghadapi forum Glasgow itu. Presiden Jokowi bisa gagah di sana: Indonesia paru-paru dunia.

Memang akan ada demo besar-besaran di sana. Demonya juga internasional. Aktivis lingkungan sedunia kumpul di sana: untuk menekan para pemimpin dunia.

Mereka kecewa berat atas hasil KTT G20 di Roma. Yang tidak memutuskan apa-apa di bidang itu. Apalagi, presiden Brasil juga tidak hadir. Tanpa komitmen Tiongkok, Rusia, dan Brasil, apalah arti keputusan itu.

Apalagi, negara-negara maju sendiri juga gagal janji. Tahun 2020, mereka semestinya mengumpulkan dana lingkungan untuk negara berkembang. Yang dijanjikan sampai Rp 1.500 triliun. Atau sekitar itu. Dana tersebut ternyata belum tersedia. Amerika Serikat belum membayar porsinya. Itu karena Presiden Trump memang menarik diri dari kesepakatan Paris. Trump juga terang-terangan mengizinkan penggunaan kembali batu bara di Amerika. Bahkan mendorongnya.

Padahal, dua hal utama itu harus diputuskan:

1. Kapan para pemimpin dunia memutuskan penggunaan batu bara harus diakhiri.

2. Kapan diputuskan, dunia hanya boleh lebih panas 1,5 derajat Celsius dari zaman sebelum ada industri (tahun 1.700).

Keputusannya: saya kira masih akan mengambang.

Di dunia diplomasi internasional, keputusan mengambang itu biasa. Yang penting: dua agenda tersebut masih terus dibicarakan. Itu saja sudah dianggap kemajuan.

Apalagi, setiap negara terlihat terus melangkah maju. Membongkar ratusan PLTU batu bara di Tiongkok itu, misalnya, kemajuan yang sangat besar. Sampai pun Tiongkok kekurangan listrik hari-hari ini.

Masih dibicarakan berarti masih baik. Jangan sampai agenda tersebut dihapus.

Karena itu, gadis Greta mungkin masih harus terus berkibar ke mana-mana. Dia sudah mendapat berbagai penghargaan dunia. Sampai pun gelar doktor honoris causa. Dia juga sudah pidato di PBB. Tiga tahun terakhir nama Greta juga selalu diusulkan untuk menerima hadiah Nobel Perdamaian.

Greta hadir di Glasgow sudah jauh lebih dewasa jika dibandingkan kali pertama mogok sekolah: usia 11 tahun pada 2014. Tiga minggu lamanya Greta mogok sekolah. Dia pilih berdiri di depan parlemen Swedia: memegang poster. Waktu itu Swedia dilanda musim panas yang terburuk. Dalam 200 tahun terakhir. Juga, terjadi kebakaran hutan yang luas.

"Mereka telah mencuri masa depan saya," katanya berkali-kali. Setelah mogok tiga minggu itu, Greta terus mogok sepanjang tahun: tiap hari Jumat. Itulah Jumat keramat bagi Swedia. "Jumat untuk masa depan, bunyi poster Greta.

Greta sendirian melakukan itu. Secara konsisten. Sesekali temannya bergabung. Tapi, pemberitaan luas di medsos membuat bermunculan Greta-Greta lain di banyak negara.

Di usia 8 tahun Greta sudah minta ibunya untuk mengambil langkah konkret: jadi vegetarian. Dan untuk sehari-hari sang ibu diminta naik sepeda saja.

Berikutnya lagi, Anda sudah tahu: Greta minta ibunya untuk tidak lagi naik pesawat. Sang ibu juga menuruti permintaan itu. Dia begitu sayang pada putri tunggalnya tersebut. Sang ibu tidak lagi naik pesawat. Dengan risiko, kariernya sebagai artis sangat terhambat.

"Dia tidak naik pesawat bukan karena cinta lingkungan. Dia terlalu cinta anaknya," komentar suaminya secara berseloroh.

Waktu dia mogok sekolah sambil demo itu, orang tuanyi berusaha mengatasi persoalan anak itu. Greta nurut. Tidak pergi demo. Tapi, juga tidak mau sekolah. Di rumah saja. Dengan wajah yang sangat tidak menyenangkan.

Akhirnya orang tua mendukung demonyi. Termasuk memenuhi permintaannyi.

"Guru saya, sebagai pribadi, mendukung saya. Tapi, sebagai guru, minta agar saya tetap sekolah," ujar Greta seperti ditulis di berbagai media Barat.

Yang problem adalah: ketika Greta diundang ke New York. Untuk berpidato di PBB. Greta tidak mau naik pesawat. Akhirnya dia naik perahu layar. Lintas benua. Perahu itu dilengkapi solar cell. Untuk memutar turbin penggerak. Greta berangkat dari Pelabuhan Plymouth, Inggris-daratan "paling dekat:" dengan New York.

Pulangnya pun dia naik perahu lagi. Dari Florida ke Porto.

Greta percaya pesawat terbang menjadi penyumbang besar memanasnya bumi. Tapi, para ahli masih terus berdebat: seberapa tambah panas sih bumi saat ini? Dibanding tahun 1.700-an?

Meski angkanya berbeda-beda, para ahli hampir sepakat: saat ini panas bumi kita 1,3 derajat lebih panas daripada tahun 1.700.

Kalau itu tidak distop, bisa jadi panas tersebut akan terus bertambah.

Maka, diusulkan agar panas bumi harus distop pada angka 1,5 derajat lebih panas dari tahun 1.700. Puncak panas itu akan terjadi kira-kita pada 2035.

Ada juga ahli yang berpendapat lain. Bisa jadi meski kita sudah berusaha keras, justru matahari yang berubah lebih panas. Terus bagaimana?

Greta sendiri memang mengaku punya sakit sindrom diam. Gejalanya: hanya mau bicara kalau ada hal yang dia anggap sangat penting.

Sang ibu menyadari putrinya punya problem kejiwaan. Tapi, aktualisasinya ternyata begitu banyak mengandung kelebihan.

Di antara planet, Bumi memang jauh beda dari Mars ataupun Bulan. Suhu di Bulan minus lebih dari 150 derajat. Maka, jangan dulu pindah ke Bulan.

Tapi, juga jangan dulu pindah ke Mars. Musim dinginnya minus 200 derajat, sedangkan musim panasnya mencapai 70 derajat.

Saya memilih tetap di rumah saya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya