Presiden Moldova Maia Sandu/Net
Krisis gas alam di Eropa serta perselisihan mengenai pasokannya, membuat Moldova harus bersiap menyambut musim dingin yang menyedihkan. Di desa Talmaza, penduduk nampak berebut mendapatkan bahan bakar untuk memanaskan rumah mereka.
Itu berarti mereka juga akan terjerat dengan harga kayu bakar yang mendadak tinggi karena banyaknya permintaan. Sebagian penduduk terutama yang lanjur usia, berpikir bahwa mereka harus segera pergi mencari tempat yang lebih hangat.
Anak-anak muda telah lama meninggalkan Talmaza. Begitu juga anak-anak muda dari penjuru Moldova yang memilih beremigrasi.
Beberapa pengamat mengklaim, apa yang terjadi di Moldova, adalah 'hukuman' yang harus diterima negara itu atas dukungannya memilih Maia Sandu, seorang presiden pro-Uni Eropa tahun lalu.
Moldova kini terperangkap dalam perebutan pengaruh antara Moskow dan Barat.
Rusia memiliki pengaruh yang besar dari mulai soal Transdniester, wilayah yang memisahkan diri Moldova di perbatasan timur dengan Ukraina, sampai pada masalah energi utama Moldova.
Sejak mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1992, Transdniester telah menerima dukungan ekonomi, politik, dan militer, termasuk ratusan tentara yang ditempatkan di sana, dari Moskow, meskipun tidak mengakui wilayah yang memisahkan diri itu sebagai negara merdeka.
Transdniester dapat mengkonsumsi banyak gas alam yang dikirim oleh Gazprom ke Moldova, tanpa harus membayar mahal, bahkan tidak membayar sama sekali.
Para politisi Moldova mengeluhkan dukungan kuat Rusia atas wilayah itu.
Sejak fenomena separatis ini ada, Transdniester belum membayar satu meter kubik gas yang dikonsumsinya, menurut seorang politisi.
"Semua uang yang terkumpul, untuk pengiriman gas ke pelanggan di wilayah separatis, masuk ke anggaran mereka dan digunakan oleh pemerintah separatis untuk kegiatan sosialnya dan untuk mempertahankan rezim," ungkap Ion Sturza, politisi Moldova yang juga mantan perdana menteri, dalam komentarnya kepada
Radio Liberty. Perusahan gas lokal Moldovagaz yang akhirnya menanggung biaya pemakaian gas Transdniester. Hal yang sangat dikecam politisi.
Krisis gas di Moldova terjadi saat Eropa bergulat dengan meroketnya harga gas yang disebabkan oleh permintaan yang kuat secara global dan keengganan Gazprom untuk menyediakan pasokan tambahan ke pasar Eropa di luar yang dijamin melalui kontrak jangka panjang.
Beberapa orang melihat ini sebagai tekanan dari Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mendorong persetujuan akhir dari pipa Nord Stream 2, pipa gas alam Laut Baltik yang kontroversial ke Jerman yang menurut para kritikus akan memperketat cengkeraman energi Rusia di Eropa.
"Tentu saja, ini adalah alat untuk meyakinkan orang Eropa tentang perlunya meluncurkan Nord Stream 2," kata Serhiy Herasymchuk dari Dewan Kebijakan Luar Negeri Prism Ukraina.