China akan membangun pangkalan militernya di Tajikistan. Rencana pembangunan itu muncul ketika salah seorang pejabat Tajikistan memberitahu adanya peningkatan ancaman yang berasal dari tetangga selatannya, Afghanistan.
Belum ada konfirmasi resmi, tetapi langkah China itu menunjukkan betapa Beijing mengkhawatirkan ketidakstabilan di Afghanistan.
Laporan dari Radio Liberty mengungkapkan bahwa Tajikistan sendiri telah menyetujui pembangunan pangkalan militer tersebut. Pangkalan itu terletak di dekat perbatasan negara itu dengan Afghanistan.
"Tajikistan menawarkan untuk mentransfer kendali penuh atas pangkalan militer China yang sudah ada sebelumnya di negara itu, dan membebaskan sewa di masa depan dengan imbalan bantuan militer dari China,†tulis Radio Liberty.
Laporan itu sekaligus mengingatkan jejak sejarah militer China yang sudah tumbuh di Tajikistan. Saat ini, jejak militer itu akan kembali dilanjutkan ketika Beijing dan tetangganya di kawasan itu mengalihkan perhatian mereka ke situasi keamanan yang semakin lemah di Afghanistan sejak pengambilalihan Taliban pada pertengahan Agustus.
Raffaello Pantucci, rekan senior di Royal United Services Institute London, mengatakan, keputusan Tajikistan untuk bekerja sama dengan China membangun fasilitas tersebut menunjukkan salah satu contoh kemitraan kedua negara.
"Fakta bahwa kami terus melihat aktivitas ini di Tajikistan menunjukkan tingkat kepedulian China terhadap Afghanistan dan kawasan," kata
Di masa lalu, China sudah mengoperasikan pangkalan militer di Tajikistan di wilayah Murghab dekat perbatasan Afghanistan di daerah terpencil dekat Koridor Wakhan. Namun, tidak ada yang menyadari hal ini, karena baik Tajikistan maupun China menyangkal keberadaan fasilitas itu.
Fasilitas diyakini telah beroperasi setidaknya selama lima tahun dan menjadi subjek penyelidikan baru-baru ini oleh media Radio Liberty yang menunjukkan personel Tiongkok mengambil peran yang semakin besar di daerah tersebut.
Dokumen resmi mengatakan bahwa personel China beroperasi di pangkalan di Tajikistan, tetapi saat ini dimiliki oleh Dushanbe.
Kembali kepada rencana pembangunan pangkalan militer, menurut laporan, proposal untuk mentransfer kepemilikan pangkalan ke China telah disampaikan oleh Presiden Tajik Emomali Rahmon kepada Menteri Pertahanan China Wei Fenghe ketika ia mengunjungi ibukota Tajik , Dushanbe, pada bulan Juli lalu.
Pembangunan fasilitas baru itu telah disetujui di majelis rendah parlemen Tajikistan pada Rabu (27/10) ketika anggota parlemen memberikan suara pada kesepakatan yang dicapai antara Kementerian Dalam Negeri Tajikistan dan Kementerian Keamanan Publik China.
"Ini menyoroti bagaimana Asia Tengah akan menjadi fokus utama perhatian China," kata Pantucci.
Ke depan, Beijing mungkin berjuang untuk menghindari dirinya terjerat dalam masalah keamanan regional, tambahnya.