Berita

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas/Net

Politik

Dibombardir Soal Kemenag Hadiah untuk NU, Generasi Muda Khonghucu Bela Gus Yaqut

RABU, 27 OKTOBER 2021 | 22:30 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas dibombardir beragam kritik karena menyatakan Kementerian Agama (Kemenag) adalah hadiah negara untuk Nahdlatul Ulama (NU).

Namun lain hal dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Generasi Muda Khonghucu Indonesia, Kristan, yang justru membela sosok yang kerap disapa Gus Yaqut ini.

Kristan menyarankan Yaqut yang kini menjadi salah seorang pejabat negara agar sedikit berhati-hati dalam berbicara. Karena menurutnya, setiap gerak dan ucap seorang pejabat negara umumnya akan selalu disorot.


"Interpretasi setiap orang bisa berbeda-beda, terlebih oleh pihak-pihak nun penuh nuansa politis yang bersebrangan pasti memanfaatkan momentum itu dengan cepat dan masif," ujar Kristan dalam keterangan tertulisnya, Rabu malam (27/10).

Generasi Muda Konghuucu Indonesia, kata Kristan, sudah mendengar klarifikasi Yaqut mengenai maksud pernyataannya yang menyebut Kemenag Hadiah untuk NU.

Dirinya menilai pernyataan Yaqut sebagai sesuatu yang wajar disampaikan dalam forum internal, guna membakar semangat para kader NU dan seperti yang diklarifikasi yaitu untuk menyemangati kaum santri.

"Jikalau boleh jujur, setiap kelompok pasti pernah melayangkan kalimat hiperbola guna memotivasi para kadernya, guna memberikan semangat dan menambah kepercayaan diri para kader. Sesuatu yang biasa disampaikan dalam forum-forum internal kelompok masing-masing selama hal itu tidak bermaksud negatif," tuturnya.

Jika ada yang memaksudkan lain, Kristan memandang itu sebagai sebuah hal yang normal dalam kehidupan berdemokrasi. Akan tetapi dia tidak sepakat jika Kemanag hanya milik NU, karena dia melihat fakta yang terjadi tak menunjukkan demikian.

"Inklusifitas, pluralitas bukan sekedar teori semata, bahwasannya semua kelompok agama diberikan pengakuan atas haknya masing-masing secara nyata," ucapnya.

Sebagai contohnya, Kristan menyebut Pusat Bimbingan dan Pendidikan Agama Khonghucu yang setingkat Eselon 2 di struktur Kemenag, merupakan bagian dari bentuk perhatian pemerintah memenuhi hak-hak umat Khonghucu di Indonesia.

"Namun harus diakui khusus untuk agama khonghucu, masih banyak lagi kerja kerja dan sinergitas antara pemerintah dan umat yang perlu ditingkatkan lagi melihat banyak sekali catatan sejarah usang yang mengenai agama khonghucu yang perlu diluruskan akibat masa orde baru," katanya.

Lewat kerja nyatanya, Kristan mendorong Kemenag era Gus Yaqut untuk tak segan berdiri paling depan, bersuara dengan lantang perihal moderasi beragama.

Dia pun yakin Yaqut tak akan malu mengakui umat-umat agama dan kepercayaan lain, dan memberikan penghormatan atas hari raya masing-masin agama, dan bisa membuka sekat antar kelompok yang sebelumnya begitu rapat.

"Karena sejatinya Kementerian Agama ialah Milik Semua Agama," demikian Kristan.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Rakornas BEM KSI Bawa Misi Besar

Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:08

BNPB Catat 8 Provinsi Terjadi Karhutla Selama 2 Hari, Wilayah IKN Jadi Prioritas

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:52

Menkop Dorong Anak Muda Malang Bentuk Koperasi untuk Perkuat Usaha

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:51

Gus Yaqut Seret Pemerintah Arab Saudi demi Bantah Dakwaan KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:48

Kinerja Menhut Atasi Karhutla Dipertanyakan, Hukum Cuma Tajam ke Bawah?

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:34

BRI Group Kelola Ekosistem Emas 153 Ton melalui Ekosistem Ultra Mikro

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:23

Belajar dari Kehancuran Harappa

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:09

Pertarungan Para King Maker dan Super-Konektor Belakang Layar Pilpres 2029

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:29

Petinggi PT Pakuwon Jati Diperiksa KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:28

Semua Elemen Masyarakat Harus Jaga Jakarta Tetap Kondusif

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:05

Selengkapnya