Berita

Wajah mantan detektif Jiang yang disembunyikan untuk menjaga kerahasiannya. Jiang mengatakan dia dikerahkan ke Xinjiang tiga atau empat kali dari posnya untuk menyiksa para tahanan/Net

Dunia

Pengakuan Mantan Detektif China Soal Penyiksaan Warga Uighur: Kami Mengambil Paksa Mereka Semalaman dan Menyiksanya Sampai Mengaku

SABTU, 09 OKTOBER 2021 | 16:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Seorang mantan detektif polisi China mengklaim bahwa dirinya menjadi saksi tindakan keras yang dilakukan pihak berwenang terhadap tahanan Uighur di Xinjiang. Pengakuan itu dibuat Jiang (nama samaran) dalam wawancara bersama media AS baru-baru ini.

Dalam wawancara tiga jam dengan CNN di lokasi pengasingannya yang dilakukan di Eropa di mana dia sekarang berada di pengasingan, Jiang mengungkapkan detail langka tentang apa yang dia gambarkan sebagai kampanye sistematis penyiksaan terhadap etnis Uighur di sistem kamp penahanan di kawasan itu, klaim yang telah dibantah China selama bertahun-tahun.

"Ratusan petugas polisi bersenjatakan senapan pergi dari rumah ke rumah di komunitas Uighur di wilayah barat jauh China. Menarik orang yang mereka anggap mencurigakan dari rumah mereka, memborgol dan menutupi wajah mereka, dan mengancam akan menembak jika mereka melawan," kisah Jian.


"Kami mengambil (mereka) semua secara paksa semalaman," katanya, menambahkan bahwa ada ratusan orang yang mereka angkut dari rumah.

Jian mengatakan banyak dari orang yang ditangkap mengalami penyiksaan seperti ditendang, dipukul hingga memar dan bengkak di pusat penahanan polisi saat diinterogasi.

"Sampai mereka berlutut di lantai sambil menangis," kisahnya tentang bagaimana rekan-rekannya menyiksa para tahanan itu termasuk anak usia 14 tahun.

Setiap aparat menggunakan metode yang berbeda. Beberapa bahkan menggunakan palang penghancur, atau rantai besi.

"Metodenya termasuk membelenggu orang ke 'kursi harimau' logam atau kayu - kursi yang dirancang untuk melumpuhkan tersangka, menggantung orang dari langit-langit, sengatan listrik, bahkan pelecehan seksual. Narapidana sering dipaksa untuk tetap terjaga selama berhari-hari, dan tidak diberi makan dan minum," katanya.

Polisi akan menginjak wajah tersangka dan menyuruhnya untuk mengaku. Para tersangka dituduh melakukan pelanggaran teror, kata Jiang, tetapi dia yakin bahwa tidak ada dari ratusan tahanan yang dia tangkap telah melakukan kejahatan itu.

"Mereka adalah orang-orang biasa," katanya.

Selama bertugas, Jiang mengatakan dia dikerahkan ke Xinjiang tiga atau empat kali dari pos normalnya di kantor polisi di China.

Penyiksaan di pusat penahanan polisi hanya berhenti ketika para tersangka mengaku, kata Jiang. Setelah itu mereka biasanya dipindahkan ke fasilitas lain, seperti penjara atau kamp interniran.

Untuk membantu memverifikasi kesaksiannya, Jiang menunjukkan kepada CNN seragam polisi, dokumen resmi, foto, video, dan identifikasi saat ia menjabat dulu, yang sebagian besar tidak dapat dipublikasikan untuk melindungi identitasnya.  

CNN mengatakan pihaknya juga telah mengajukan pertanyaan terperinci kepada pemerintah China tentang tuduhan Jiang, namun sejauh ini belum mendapat tanggapan.

CNN juga mengakui tidak dapat secara independen mengkonfirmasi klaim Jiang tersebut. Namun begitu, beberapa detail kisah dari Jiang itu mengingatkan akan kisah dua korban Uighur yang diwawancarai CNN untuk laporan ini.  

Departemen Luar Negeri AS memperkirakan bahwa hingga 2 juta orang Uyghur dan etnis minoritas lainnya telah ditahan di kamp-kamp interniran di Xinjiang sejak 2017.

China sendiri mengatakan kamp-kamp itu bersifat kejuruan, yang ditujukan untuk memerangi terorisme dan separatisme, dan telah berulang kali membantah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah.

"Saya ingin menegaskan kembali bahwa apa yang disebut genosida di Xinjiang hanyalah rumor yang didukung oleh motif tersembunyi dan kebohongan nyata," kata Zhao Lijian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, selama konferensi pers pada bulan Juni.

Untuk menguatkan klaimnya, pejabat dari pemerintah Xinjiang pada Rabu (7/10) bahkan memperkenalkan seorang pria pada konferensi pers yang mereka katakan adalah mantan tahanan, yang membantah ada penyiksaan di kamp-kamp, ​​menyebut tuduhan seperti itu kebohongan total.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya