Berita

Pengamat kebijakan publik yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Menteri BUMN, Said Didu/Net

Politik

Di Era Jokowi Rakyat Bayar Pajak untuk Tutup Utang Bejubel Pemerintah

SENIN, 04 OKTOBER 2021 | 01:57 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Nilai utang pemerintah hingga Agustus 2021 sudah mencapai Rp 6.625,43 miliar atau setara dengan 40,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Tak cuma ekonom, pengamat kebijakan publik, Said Didu ikut geleng-geleng kepala mendengar hal ini.

Dalam wawancara dengan Hersubeno Arief di dalam siaran kanal Youtube-nya, Said Didu menjelaskan posisi utang publik yang ditarik untuk keperluan BUMN, pemerintah, hingga Bank Indonesia (BI).

"Utang Publik sekarang, itu utang BUMN ditambah utang pemerintah ditambah utang BI, mungkin mendekati sekitar Rp 13 ribu triliun. PDB kita mungkin sekitar Rp 18 ribu triliun.Jadi mungkin utang kita sekitar 80 persen," kata Said Didu dikutip Senin dini hari (4/10).


Dalam catatannya, Said Didu melihat utang pemerintah sampai sekarang mendekati Rp 6.700 triliun. Dia memperkirakan, hingga akhir tahun 2021 ini utang pemerintah menjadi sekitar Rp 7.000 triliun.

"Rp 7.000 triliun itu peningkatan sejak 2014 dari Rp 2.700 triliun menjadi Rp 7 ribu triliun. Jadi lebih Rp 4 ribu triliun tambahannya," papar Said Didu.

"Sementara penerimaan negara hampir stagnan, itu hanya sekitar Rp 1.500 - Rp 1.600 triliun. Dan penerimaan pajak stagnan di Rp 1.200 - Rp 1.300 triliun," sambungnya.

Mantan Sekretaris Menteri BUMN ini berpendapat, uang besar yang ada di pemerintahan Presiden Joko Widodo sekarang ini tidak dirasakan secara merata manfaatnya oleh masyarakat.

Karena dia melihat, utang yang ditarik pemerintah hanya digunakan untuk keperluan pembangunan infrastruktur yang hanya dinikmati segelintir orang. Sementara, uang yang dipakai untuk membayar utang berasal dari dompet seluruh rakyat Indonesia.

"Kalau dulu kita membayar pajak untuk perbaikan irigasi, jalan, gedung SD, penambahan puskesmas. Kalau sekarang ini dipakai bayar utang. Lalu utang dipakai apa? Di depan mata kita itu dipakai untuk proyek mercusuar yang tidak semua rakyat menikmati," ucapnya,

"Tol, bandara, pelabuhan itu tidak semua menikmati tapi semua rakyat membayar (pajak)," demikian Said.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya