Berita

Ilustrasi/Repro

Dahlan Iskan

Blok Blokan

MINGGU, 03 OKTOBER 2021 | 05:17 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BISA jadi Indonesia akan berada di nonblok. Atau ikut salah satunya. Kita belum tahu. Kita memang masih harus bersyukur habis-habisan: pandemi Covid kita seperti tiba-tiba mengundurkan diri dari Indonesia.

Alangkah senangnya: tinggal 1.500-an kasus baru di Indonesia –sehari Jumat kemarin. Alhamdulillah. Puji Tuhan. Rahayu. Amitofo.

Di Malaysia, Filipina, dan Thailand juga sudah menurun meski masih di atas 10.000.


Bagaimana setelah ini?

Blok Barat sudah jelas: pilih jalan kebebasan. Yakni harus bisa hidup baru bersama Covid.

Norwegia sudah memulainya Minggu lalu: tanpa masker, tanpa vaksin baru, tanpa PCR, tanpa apa pun. Anda sudah tahu itu.

Singapura, pasti, ikut blok Barat. Anda juga sudah tahu itu. Kalau ada penduduknya yang merasa harus pakai masker pakai saja. Kalau mau PCR lakukan saja. Keputusan ada di masing-masing orang.

Mereka juga mulai membebaskan kedatangan orang luar negeri tanpa prosedur Covid lagi.

Memang tidak langsung bebas. Ada tahapannya. Sebatas orang dari negara-negara Eropa dulu. Lalu dari negara-negara yang kasus Covidnya terkendali. Dan tentu, yang jangkauan vaksinasinya sudah di atas 80 persen.

Itu sebenarnya mirip saja dengan apa yang sebelum pandemi juga berlaku: rakyat dari negara tertentu dilarang masuk negara tertentu. Misalnya dalam hal Ebola. Banyak negara tidak mau menerima mereka yang dari negara terjangkit Ebola. Juga siapa pun yang baru saja mengunjungi wilayah terjangkit Ebola.

Tiongkok menempuh jalan lain: tetap harus lewat karantina. Siapa pun akan tetap diharuskan masuk karantina. Karantina akan menjadi 'normal baru' di Tiongkok.

Di semua kota besar di Tiongkok sedang dibangun gedung karantina manusia. Gedung itu seperti hotel tapi bukan hotel. Seperti rumah sakit tapi bukan rumah sakit. Seperti tempat rekreasi tapi bukan itu. Seperti arena olahraga tapi bukan juga.

Di Guangzhou misalnya, sedang dibangun gedung karantina model baru itu: berkapasitas 5.000 orang. Pun di kota besar lainnya –yang jadi tujuan pendatang dari negara lain.

Sebetulnya itu tidak baru. Setiap negara sudah punya fasilitas karantina hewan. Juga sudah punya karantina tumbuh-tumbuhan. Apa salahnya sekalian ada karantina manusia. Mungkin juga akan ada karantina Taliban –kalau yang satu ini dianggap bukan lagi salah satu dari tiga jenis tadi.

Selama ini karantina Covid-19 itu dilakukan di hotel. Di semua negara. Dimulai oleh Tiongkok. Sekalian memanfaatkan hotel yang lagi kosong. Gedungnya sudah ada. Segala fasilitas sudah tersedia.

Tapi hotel bukanlah tempat karantina yang ideal. Pegawai hotel bukanlah tenaga medis terdidik. Sistem flow manusianya juga tidak untuk mencegah penularan virus.

Tiongkok tidak ikut jalan kebebasan. Ia punya jalannya sendiri.

Pandemi ternyata juga melahirkan blok-blokan.

Dua blok itu terasa mencerminkan pula pemikiran ideologi mereka: kebebasan vs pengendalian.

Di Barat keputusan diserahkan kepada individu. Termasuk soal pakai masker. Kalau pun ada yang terjangkit Covid, individu harus tahu sendiri apa yang harus mereka lakukan.

Vietnam, Kamboja, dan Laos kelihatannya akan menjadi anggota pertama blok Timur. Singapura kelihatannya menjadi pendaftar pertama ikut blok Barat. Entah Malaysia dan Thailand.

Cara yang dianut blok Barat itu akan menghasilkan realitas baru: biar saja ada yang sakit. Asal tidak sampai membuat rumah sakit kewalahan. Orang boleh sakit apa saja. Yang penting ada dokternya, ada rumah sakitnya, ada perawatnya, dan yang terpenting menurut Kliwon, ada uangnya.

Cara blok Timur lain lagi: menginginkan zero toleran.

Apakah Tiongkok tidak takut cara itu akan mengganggu perekonomiannya?

Sebenarnya saya ingin mikir itu. Tapi saya takut. Terutama jangan-jangan waktu saya tidak cukup –kalau dalam sehari komentar yang harus saya baca melebihi 400 seperti kemarin.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya