Berita

Penjara Pul-e-Charkhi, di sebelah timur Kabul, dikenal sebagai Fasilitas Penahanan Nasional Afghanistan yang terbesar dan disebut-sebut mengerikan/Net

Dunia

Penjara Pul-e-Charkhi yang Terbesar dan Terkejam di Afghanistan kini Hening, Narapidananya Sekarang Naik Pangkat jadi Pengawas

RABU, 15 SEPTEMBER 2021 | 09:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejak Taliban berkuasa, banyak 'keajaiban' yang terjadi di Afghanistan. Salah satunya adalah para napi di penjara Pul-e-Charkhi, mendadak menjadi penjaga tahanan di sana.

Penjara Pul-e-Charkhi yang terletak di sebelah timur Kabul adalah penjara terbesar di Afghanistan. Tahanan di dalamnya adalah penjahat kelas berat. Beberapa ribu pejuang Taliban dipenjara di sini termasuk ISIS dan Al-Qaeda.

Namun, ketika Taliban berkuasa banyak tahanan yang dibebaskan. Pul-e-Charkhi pun menjadi senyap, para penjahatnya dibebaskan dan berkeliaran di penjuru kota.


Beberapa napi malah diberikan 'penghormatan' dengan menempatkannya sebagai penjaga tahanan. Mereka yang dulunya menghuni ruang-ruang sel di Pul-e-Charkhi dengan seragam tahanan, kini terlihat berjaga di pos-pos penjaga dengan mengenakan sorban dan senjata yang disandang di bahu.

Mereka juga terlihat berpatroli dengan mobil polisi hijau, dan mengibarkan bendera mereka sambil memamerkan senjata.

Pul-e-Charkhi adalah rumah bagi lebih dari 9.000 narapidana dan menjadi yang terpadat, melebihi kapasitas semestinya, sekaligus menjadi yang terkejam. The National menuliskannya sebagai fasilitas penyiksaan dan eksekusi.

Penjara ini didirikan pada 1980-an. Pada tahun 2009, AS memindahkan sekitar 250 tahanan di sana ke kamp penahanan Teluk Guantanamo.

Saat ini, penjara itu tidak benar-benar kosong, masih ada beberapa ratus orang yang berada di sel. Namun, beberapa ratus orang itu memberikan pemandangan yang berbeda, dibandingkan sebelumnya yang berisi 9.000 orang.

Berita beredar dan rekaman menunjukkan kelompok Talibam mengepung penjara itu dan membebaskan tahanan ISIS dan Al-Qaeda. Namun, penjaga penjara Taliban -yang sekarang menjaga penjara- menyangkal bahwa peristiwa itu pernah terjadi. Bekas pemerintah Afghanistanlah  yang 'mengosongkan halaman penjara dan membuka pintu' ketika Taliban menguasai Kabul, katanya.

Tahun lalu, Agustus 2020, pemerintah Afghanistan memang membebaskan Hekmatullah Hekmat, dari penjara Pul-e-Charkhi. Tapi itu sebagai bagian dari prasyarat untuk memulai negosiasi damai langsung dengan Taliban.

Saat itu, setiap tahanan yang dibebaskan menandatangani deklarasi yang berjanji untuk tidak bergabung dengan Taliban lagi.

Namun, sekeluarnya dari penjara, Hekmat mengatakan; "Ketika saya meninggalkan penjara, saya akan mulai berperang lagi."

Bagi Hekmat, AS dan mantan pemerintah Afghanistan -yang disebutnya rezim boneka- adalah musuh yang harus disingkirkan.

“Jika mereka kembali, kami akan melawan mereka lagi. Negara kami diduduki dan saya melawan kekuatan asing dan ideologi mereka. Kami berkomitmen untuk membela negara, agama, dan rakyat kami,” kata Hekmat.

Hekmat berada di dalam penjara selama hampir tiga tahun. Ia berada satu sel dengan 13 tawanan lainnya. Dia ditangkap oleh dinas rahasia Afghanistan, Unit Nol Satu Direktorat Keamanan Nasional, di provinsi utara Kunduz.

Pada 15 Agustus, ketika Taliban berkuasa, ribuan tahanan dibebaskan. Sisa-sisa kepergian mereka masih terlihat, dengan kondisi penjara yang nampak kotor dan berantakan seperti ditinggalkan dengan terburu-buru.

Qudratullah Nazim, 33, termasuk di antara yang keluar pada 15 Agustus. Ia akhirnya lolos dari hukuman mati yang dikeluarkan oleh pemerintahan presiden Ashraf Ghani. Ia adalah seorang komandan gerilya yang sebagian besar beroperasi di Kandahar dan Helmand, dan telah berada di dalam penjara lebih dari satu dekade.

Sekarang, dia mengaku bisa berjalan dengan lega dan bangga.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya