Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Di Balik Pemutusan Hubungan Diplomatik, Aljazair dan Maroko Berkompetisi Bangun Pipa Gas di Trans-Sahara

SELASA, 14 SEPTEMBER 2021 | 11:50 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pemutusan hubungan diplomatik yang dilakukan oleh Aljazair kepada tetangganya, Maroko, pada bulan lalu dinilai terjadi karena persaingan mengenai proyek pipa gas yang membentang di Trans-Sahara.

Kepala perusahaan minyak milik negara Aljazair Sonatrach, Toufik Hakkar pada Senin (13/9) mengumumkan pihaknya telah merampungkan studi teknis mengenai pembangunan pipa gas Trans-Sahara. Sementara otoritas mempersiapkan pembicaraan dengan Nigeria dan Niger mengenai kontruksinya.

Menurut harian Aljazair, El-Jaza'ir, Hakkar mengatakan rute jalur pipa gas telah ditentukan. Pipa akan melintasi Gurun Sahara yang luas, termasuk melewati Sungai Niger.


Jika rampung, pipa akan menciptakan koneksi baru antara sumber gas di Nigeria dengan pasar di Eropa, melalui jalur gas Aljazair yang membentang di Sahara.

Menteri Energi dan Pertambangan Aljazair Mohamed Arkab mengatakan, pemerintah memberikan perhatian khusus untuk mewujudkan protek tersebut.

"Proyek ini akan memiliki hasil sosial dan ekonomi yang penting di negara-negara transit, dalam kerangka perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan," jelas Arkab.

Tetapi rencana besar itu tampaknya tidak ditanggapi secara antusias oleh Nigeria.

Dikutip dari OilPrice.com, Abuja khawatir menganai kemampuannya mengamankan pendanaan China untuk proyek tersebut.

Selain itu, keamanan rute yang diajukan oleh Aljazair diragukan karena melewati wilayah yang dikendalikan kelompok-kelompok militan, termasuk ISIS dan Al Qaeda. Nigeria sendiri belum berhasil menghentikan Boko Haram.

Alih-alih, Nigeria tampaknya tertarik untuk memulai proyek jalur pipa gas bawah laut di lepas pantai Afrika dari Nigeria ke Maroko.

Pada Januari, Presiden Nigeria Muhammadu Buhari mengatakan kepada Raja Maroko Mohammed VI bahwa dia bertekad untuk memulai proyek sesegera mungkin.

Kemudian pada Juni, Chief Officer Nigerian National Petroleum Corporation (NNPC), Yusuf Usman, mengatakan kepada Nigerian Newsdirect bahwa Abuja siap untuk membuat keputusan investasi akhir untuk proyek tersebut.

Kendati begitu, persoalan mengenai kesepakatan damai antara Maroko dan Israel pada Desember juga telah dipandang sebagai ancaman.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya