Berita

Taliban/Net

Dunia

Tak Ingin Buru-buru Akui Pemerintahan Baru Afghanistan, Uni Eropa Ingin Lebih Dulu Pengaruhi Taliban

KAMIS, 02 SEPTEMBER 2021 | 13:51 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Seperti banyak negara lainnya, Uni Eropa tidak akan terburu-buru mengakui pemerintahan baru Afghanistan yang akan segera diumumkan oleh Taliban atau bahkan menjalin hubungan resmi.

Direktur Pelaksana Komisi Eropa untuk Asia dan Pasifik Gunnar Wiegand mengatakan, UE akan menjalin hubungan resmi dengan Taliban jika kelompok itu memenuhi persyaratan tertentu, termasuk menghormati hak asasi manusia dan akses tak terbatas bagi pekerja bantuan internasional.

"Tidak ada keraguan di antara negara-negara anggota (UE) dan dalam konteks G7, kita perlu terlibat dengan Taliban, kita perlu berkomunikasi dengan Taliban, kita perlu mempengaruhi Taliban, kita perlu memanfaatkan pengaruhi yang kita miliki," ujarnya di harapan anggota Parlemen Eropa di Brussel, seperti dikutip Reuters, Kamis (2/9).


Wiegand mengatakan, eksekutif Uni Eropa berencana untuk mendapatkan dana 300 juta euro, baik tahun ini dan tahun depan, untuk membuka kembali pemukiman bagi sekitar 30.000 warga Afghanistan.

"Tapi kami tidak akan terburu-buru mengakui formasi baru ini, atau menjalin hubungan resmi," tambahnya.

Wiegand mengatakan tidak jelas apakah Taliban akan dapat memerintah secara efektif, tetapi bagi UE syarat utama untuk hubungan resmi adalah pembentukan pemerintahan transisi yang inklusif dan representatif.

Setelah dua pekan mengambil alih Kabul, Taliban belum menunjuk atau mengumumkan pemerintahan barunya.

Di samping itu, Wiegand juga menyerukan evaluasi mengenai kehadiran Amerika Serikat (AS) dan NATO di Afghanistan selama 20 tahun terakhir, yang justru memicu evakuasi besar-besaran yang kacau.

"Kami harus membuat penilaian tentang alasan mengapa kehancuran seperti itu mungkin terjadi. Kami harus belajar pelajaran untuk situasi serupa, dan ini akan menjadi penilaian yang dimulai sekarang," pungkasnya.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya