Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Ketakutan Warga Afghanistan: Taliban Datang, Musik dan Jeans Menghilang

RABU, 01 SEPTEMBER 2021 | 08:30 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Salah satu sektor yang diduga akan sangat berdampak dengan kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan Afghanistan adalah musik. Sejauh ini, musik menjadi bagian dari budaya yang dilarang oleh kelompok itu. Lalu bagaimana masyarakat di sana memandang hal ini?

Banyak di antara orang yang bergerak di bidang musik, termasuk radio-radio mulai berpikir ulang untuk memainkan musik merujuk kekhawatiran akan adanya tindakan keras dari kelompok yang memegang kuat syariah Islam tersebut.

Taliban sendiri sejauh ini beruapaya keras menunjukkan wajah yang lebih damai kepada dunia, dengan meniadakan hukuman yang keras dan larangan langsung terhadap hiburan publik yang menjadi ciri masa kekuasaan mereka sebelum 2001.


Kegiatan budaya diperbolehkan, kata mereka sesaat setelah berhasil menguasai Kabul, selama tidak bertentangan dengan hukum Syariah dan budaya Islam Afghanistan.

Namun, kekhawatiran itu tetap ada.

Di Kandahar, Otoritas Taliban sudah mengeluarkan perintah resmi terhadap stasiun radio yang memutar musik dan penyiar wanita minggu lalu. Namun,  bagi banyak orang, tidak ada perintah resmi yang diperlukan untuk berhenti memainkan musik atau menonjolkan budaya barat.

Mereka bahkan telah dengan ‘suka rela’ menghapus tanda-tanda warna-warni di luar salon kecantikan, jeans telah diganti dengan pakaian tradisional dan stasiun radio telah menggantikan menu normal mereka dari pertunjukan pop dengan musik patriotik yang suram.

“Bukan Taliban yang memerintahkan kami untuk mengubah apa pun. Kami telah mengubah program untuk saat ini karena kami tidak ingin Taliban memaksa kami untuk menutup,” kata Khalid Sediqqi, seorang produser di sebuah stasiun radio swasta di pusat kota Ghazni.

“Juga tidak ada seorang pun di negara ini yang berminat untuk hiburan, kita semua dalam keadaan syok,” katanya.

“Saya bahkan tidak yakin apakah ada orang yang menyetel radio lagi,” ujarnya.

Bagi para senior Taliban, yang banyak yang dibesarkan di sekolah agama dan dengan pengalaman bertahun-tahun berjuang dalam kesulitan, perubahan yang dilakukan warga Afghanistan sia-sia.

Selama 20 tahun pemerintahan yang didukung Barat, budaya populer tumbuh di Kabul dan kota-kota lain dengan perpaduan binaraga, minuman energi, gaya rambut yang mewah, dan lagu-lagu pop yang merdu. Sinetron Turki, bahkan sampai acara pencarian bakat televisi seperti 'Afghan Star', menjadi hit besar.

“Budaya berubah menjadi racun, kami melihat pengaruh Rusia dan Amerika di mana-mana bahkan dalam makanan yang kami makan, itu adalah sesuatu yang harus disadari orang dan membuat perubahan yang diperlukan,” kata seorang komandan Taliban.

“Ini akan memakan waktu tetapi itu akan terjadi,” katanya.

Sementara pejabat senior Taliban telah berulang kali mengatakan bahwa pasukan mereka harus memperlakukan penduduk dengan hormat dan tidak memberikan hukuman sewenang-wenang, banyak yang tidak mempercayai mereka atau tidak percaya bahwa mereka dapat mengendalikan tentara mereka yang ada di jalanan.

“Tidak ada musik di seluruh kota Jalalalad, orang-orang ketakutan dan ketakutan karena Taliban memukuli orang,” kata Naseem, mantan pejabat di provinsi timur Nangarhar.

Zarifullah Sahel, seorang jurnalis lokal di provinsi Laghman dekat Kabul mengatakan kepala komisi budaya lokal Taliban mengatakan kepada radio publik yang dikelola pemerintah dan enam stasiun swasta lainnya untuk menyesuaikan program mereka untuk memastikan itu sejalan dengan hukum Syariah.

Sejak itu program musik dan program politik, budaya dan berita yang tidak terkait dengan isu-isu agama telah mengering.

“Saya khawatir Taliban mungkin menargetkan saya jika terlihat mengenakan jeans atau kemeja barat atau jas,” kata Mustafa Ali Rahman, mantan pejabat pajak di provinsi Lagman.

“Seseorang tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk menghukum kita,” ujarnya.

Seorang mantan aktivis sipil di kota utara Mazar-i-Sharif mengatakan toko-toko dan restoran tampaknya telah memutuskan sendiri dan mematikan radio mereka.

“Tidak ada peringatan tentang musik, tetapi orang-orang sendiri telah berhenti,” katanya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya