Berita

Ilustrasi tes PCR/Net

Kesehatan

Komponen Masih Impor, Penyebab Harga Tes PCR Indonesia Lebih Mahal Dibanding India

SELASA, 17 AGUSTUS 2021 | 17:58 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Tarif tes PCR untuk diagnosis Covid-19 yang telah ditetapkan pemerintah menjadi Rp 450-500 ribu dinilai masih kemahalan. Terutama jika dibandingkan dengan tes serupa di India yang hanya 500 rupee atau setara Rp 96 ribu.

Merespons hal tersebut, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jabar, Eka Mulyana menjelaskan, pemeriksaan PCR adalah golden standard untuk diagnosis Covid-19. Hal tersebut telah direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pemerintah Indonesia.

Akan tetapi yang menjadi sorotan publik adalah informasi mengenai tarif tes PCR di India yang jauh lebih murah dibanding Indonesia. Berdasarkan pernyataan pakar epidemiologi, banyak faktor yang memengaruhi adanya perbedaan tarif pemeriksaan PCR. Satu di antaranya terdapat komponen regen dari PCR inti.


"Katakanlah di India sudah bisa full diproduksi sendiri, sedangkan di Indonesia mungkin komponen regennya masih diimpor. Tentu ini pasti ada perbedaan. Perbedaannya berapa tentu relatif," jelas Eka, Selasa (17/8), dikutip Kantor Berita RMOLJabar.

Ia menilai perbedaan tarif PCR tersebut tentu tidak bisa begitu saja disamakan atau dibandingkan. Meski begitu, pihaknya meminta agar tarif yang telah ditentukan tidak memberatkan masyarakat.

"Meskipun terdapat perbedaan tetapi tidak boleh memberatkan atau terlalu mahal bagi masyarakat," ujarnya.

Saat disinggung mengenai potensi penggratisan tes PCR, Eka menyampaikan, kondisi saat ini belum memungkinkan bagi pemerintah untuk menggratiskan tes PCR. Beda halnya dengan vaksinasi yang digratiskan di mana-mana.

"Yang pasti jangan memberatkan masyarakat, karena ini bukan komersil," tegasnya.

Dengan demikian, IDI Jabar berharap kebijakan tersebut dapat meringankan seluruh lapisan masyarakat dalam masa pandemi Covid-19. Kemudian, indonesia dapat memproduksi komponen regen secara mandiri.

"Kita tahu sendiri, seperti India dan Tiongkok bisa memproduksi sendiri. Sementara di Indonesia belum bisa, makanya jomplang. Mungkin itu yang harus diluruskan ke masyarakat luas," pungkasnya.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya