Berita

Tempat Pemkaman Umum (TPU) Bambu Wulung, Cipayung, Jakarta Timur/Net

Kesehatan

Sekelumit Persoalan Angka Kematian Corona Terakumulasi 30 Ribu Hanya Dalam Sebulan

JUMAT, 06 AGUSTUS 2021 | 16:26 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Angka kematian Covid-19 selama dua bulan terakhir mengalami pertambahan cukup tinggi, yakni mencapai lebih dari seribu kasus per hari.

Hingga Kamis sore (5/8), jumlah pasien Covid-19 yang meninggal masih bertambah hingga 1.739 kasus, dengan totalnya yang tercatat sudah sebanyak 102.375 kasus kematian.

Dari banyak kalangan dan pakar kesehatan yang menyoroti secara serius persoalan tersebut, Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, membeberkan sekelumit sebab dari lonjakan angka kematian tak bisa ditekan atau dikendalikan.


"Sangat benar. Kekhawatiran utama publik adalah fakta bahwa jumlah kematian Covid-19 di Indonesia sudah melebihi 100 ribu jiwa. Termasuk di antaranya adalah 598 dokter," ujar Zubairi Djoerban dalam akun Twitternya, Jumat (6/8).

Bahkan menurut penemu HIV Aids di Indonesia ini, angka kematian Covid-19 yang sebenarnya bisa saja jauh lebih tinggi dari yang dicatat pemerintah.

Karena Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menyebutkan, antrean panjang pasien Covid-19 untuk mendapatkan tempat tidur di rumah sakit menjadi salah satu gambaran dari kondisi pandemi yang tak terkendali dua bulan lalu.

"Kurangnya pasokan oksigen (pasien Covid-19) isoman yang kurang tertangani, ya alhasil 30 ribu-an orang meninggal hanya pada bulan Juli saja," paparnya.

Dari situ, Zubairi Djoerban tidak bisa memungkiri ada fakta kondisi rumah sakit yang akhirnya mengalami kekurangan oksigen dan terisi jauh melebihi kapasitas jumlah pasiennya. Sehingga makin sulit untuk merawat dengan intens, bahkan ada yang terpaksa menolak pasien karena penuh.

"Pada sisi lain, tenaga medis dan kesehatan juga kewalahan," katanya.

Laporan dari lapangan yang diterima Satgas Covid-19 IDI, puskesmas dan pasien positif juga mengalami kesulitan menghubungi hotline rumah sakit. "Mereka coba menghubungi namun tidak ada yang angkat," kata Zubairi Djoerban, sehingga akibatnya ambulans dari puskesmas tidak bisa jalan ke rumah sakit dan pasien pun tidak tertangani hingga berujung pada kematian.

Maka dari itu, Zubairi Djoerban memohon dengan sangat kepada pihak terkait agar hotline di rumah sakit dibuka selama 24 jam dan direspons secara cepat. Karena, ambulans dari puskesmas baru bisa berangkat menjemput pasien positif jika rumah sakit yang dituju memberi jaminan.

"Namanya hotline ya harus merespons, apapun kondisinya. Paling tidak memberi informasi faktual saat itu," tegasnya.

Selain itu, Zubairi Djoerban juga menyoroti keberadaan laboratorium yang menjadi tempat tes antigen dan PCR di seluruh Indonesia yang jumlahnya mencapai 925 laboratorium.

Jumlah laboratrium yang banyak tersebut, menurutnya, harus menjalankan kewajiban untuk memberikan konsultasi dan merujuk pasien ke puskesmas atau rumah sakit, bukan justru cuma melakukan tes dan menyerahkan hasilnya kepada orang,

"Disudahi begitu saja," ketusnya.

Model perenanan laboratorium yang seperti itu, kata Zubariri Djoerban, mirip-mirip dengan pola penanganan infeksi virus HIV yang dulu ia saksikan langsung. Yakni, bersamaan dengan hasil tes keluar dari lab, orang hanya diberikan konsultasi dan memberi jalan kepada pasien untuk melakukan sesuatu.

"Ini harus jadi konsen," pintanya.

Tak kalah penting, Zubairi Djoerban juga menyoroti soal isoman yang dinilainya menjadi isu serius dalam penanganan Covid-19 sekarang ini. Sebabnya, di lapangan banyak sekali orang yang melakukan isoman tapi tidak punya pengetahuan cukup untuk segera pulih, sehingga banyak juga yang meninggal.

Kendati begitu, ia bersyukur di beberapa daerah sudah dilakukan konsultasi kesehatan secara vitual (telemedicine) untuk pasien isoman.

"Ini bagus sekali, dan saya salut kepada teman-teman dokter yang sudah melaksanakannya. Semoga, daerah yang sudah melakukan telemedicine dan berhasil, bisa menjadi prototipe daerah lain untuk melakukannya juga," pungkasnya.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya