Berita

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2021 berdasarkan data BPS/Repro

Publika

Efek Basis dalam Lompatan Pertumbuhan Ekonomi

JUMAT, 06 AGUSTUS 2021 | 11:20 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

JANGAN berbangga dulu, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 sebesar 7,07 persen itu semu. Apa yang terlihat sebagai lompatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia ternyata adalah akibat dari “efek basis” atau base effect.

Efek basis adalah suatu distorsi yang terjadi pada rasio persentase antara dua titik poin dengan salah satu poinnya menjadi basis, akibat basis yang terlalu tinggi atau rendah. Bila basisnya terlau rendah, maka disebut “low base effect”.

Efek basis biasa terjadi pada perhitungan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Efek basis pada perhitungan pertumbuhan ekonomi ini belum lama terjadi di banyak negara yang melakukan pelonggaran di tengah pandemi.


Sebut saja China, sebagai negara yang lebih awal melonggarkan pergerakan masyarakatnya. Pertumbuhan kuartal I-2021 China mengalami lompatan hingga 18,3 persen. Tapi setelah efek basis berakhir, di kuartal II-2021 pertumbuhan ekonomi China anjlok ke 7,9 persen.

Perlu diketahui ratarata pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun 2000-2020 adalah 8,67 persen. Jadi setelah melompat 9,7 persen di atas pertumbuhan rata-ratanya, pertumbuhan ekonomi China sekarang sudah menjadi di bawah rata-ratanya.

Jepang lebih bombastis lagi. Akibat “efek basis”, pertumbuhan Jepang melompat sangat tinggi ke 22,9 persen di kuartal-III 2020 dan 11,7 persen di kuartal IV-2020. Baru kemudian kembali ke zona resesi minus 3,9 persen di kuartal-I 2021.

Perlu diketahui, rata-rata pertumbuhan Jepang selama tahun 2001-2020 adalah 0,75 persen. Jadi setelah melompat 22 persen dan 11 persen di atas pertumbuhan rata-ratanya, pertumbuhan ekonomi Jepang kembali di bawah rata-rata, bahkan masuk ke zona resesi.

Amerika Serikat juga mengalami lompatan pertumbuhan ekonomi ke 12,2 persen di kuartal-II tahun 2021, dalam periode yang sama dengan Indonesia. Perlu diketahui rata-rata pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat sepanjang tahun 2000-2020 adalah 1,77 persen. Jadi pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam ini melompat 10,5 persen di atas rata-rata saat mengalami efek basis.

Singapura juga alami lompatan pertumbuhan ekonomi ke 14,3 persen pada kuartal II-2021 akibat efek basis yang sama. Perlu diketahui rata-rata pertumbuhan ekonomi Singapura sepanjang tahun 2000-2020 adalah 4,3 persen. Jadi pertumbuhan ekonomi Singapura melompat 10 persen di atas pertumbuhan rata-ratanya.

Sementara negara-negara Uni Eropa juga mengalami lompatan pertumbuhan ekonomi ke 13,2 persen di kuartal ke-II 2021. Perlu diketahui rata-rata pertumbuhan ekonomi Uni Eropa tahun 2000-2020 adalah 1,34 persen. Jadi lompatan pertumbuhan ekonomi Uni Eropa 11,9 persen di atas pertumbuhan rata-ratanya.

Kenapa diambil contoh China, Jepang, Amerika Serikat, Singapura, dan Uni Eropa, karena mereka adalah mitra dagang utama Indonesia.

Sementara Indonesia sendiri rata-rata pertumbuhan ekonominya tahun 2001-2020 adalah 4,88 persen. Lompatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di kuartal II-2021 sebesar 7,07 persen kemarin itu hanya 2,2 persen di atas rata-rata pertumbuhan Indonesia.

Bila dibandingkan dengan mitra-mitra dagang utama Indonesia tersebut, lompatan pertumbuhan dibandingkan rata-rata pertumbuhan Indonesia sangat kecil. Semuanya terjadi lompatan double dijit, sementara Indonesia hanya melompat 2,2 persen saja di atas rata-rata.

Dan kemungkinan besar, pada kuartal ke-III dan ke-IV 2021 pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali turun hingga di bawah rata-rata pertumbuhan normalnya.

Jadi bila pertumbuhan rata-rata Indonesia adalah 4,88 persen, maka sudah benar bila banyak analis dari pemerintah dan nonpemerintah juga yang memproyeksikan bahwa pertumbuhan ke depan, kuartal III dan IV 2021 hingga keseluruhan tahun, hanya akan di kisaran 3 persen.

Juga bukankah pertumbuhan ekonomi bila dihitung secara semesteran, tahun 2021 dibandingkan tahun 2020, hanya bertumbuh 3,1 persen?

Analis dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya