Berita

Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto/Net

Politik

Jika Tak Ada Evaluasi Menyeluruh, Pemerintah Didesak Setop Impor Vaksin Sinovac

JUMAT, 23 JULI 2021 | 15:29 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pemerintah diminta untuk menghentikan impor bahan baku vaksin Sinovac sampai ada hasil evaluasi menyeluruh terkait efektivitas penggunaan vaksin yang berasal dari negara komunis China itu.

Demikian disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (23/7).

"Minta Pemerintah menghentikan impor bahan baku vaksin Sinovac sampai ada hasil evaluasi efektifitas penggunaan vaksin buatan China itu secara menyeluruh," kata Mulyanto.


Ia menyayangkan sikap Pemerintah yang terus mengimpor vaksin Sinovac. Padahal beberapa negara seperti Malaysia dan Thailand sudah menghentikan penggunaan Sinovac dan beralih ke vaksin yang efikasinya lebih baik.

"Bahkan China sebagai produsen Sinovac diketahui memborong vaksin Pfizer buatan Amerika. WHO menyebutkan efikasi vaksin Sinovac hanya 51 persen. Sementara BPOM menyebut 65 persen. Angka tersebut lebih kecil dibanding efikasi vaksin merek lain," kata dia.

Sementara itu, lanjut Politkus PKS ini, di tengah program vaksinasi yang sedang berjalan di Indonesia justru terjadi lonjakan gelombang kedua pandemi Covid-19.

"Jadi sangat wajar kalau kita meragukan efektivitas vaksin Sinovac tersebut," tegasnya.

Lagipula, secara ekonomi ini tidak optimal dengan anggaran yang di gelontorkan negara untuk mengimpor vaksin Covid-19.

"Jadi, Pemerintah perlu segera menyetop impor vaksin ini," cetusnya.

Pertanggal 22 Juli 2021 Pemerintah kembali mendatangkan 8 juta dosis bahan baku vaksin Sinovac.

Dari pengiriman yang ke-29 ini total bahan baku vaksin Sinovac yang diterima Pemerintah berjumlah 123.500.280 dosis.

Bahan baku atau vaksin bulk ini akan diolah PT Bio Farma sebelum didistribusikan ke masyarakat sebagai vaksin jadi.

Menurut Mulyanto, Pemerintah harus dapat memastikan bahwa vaksin yang digunakan selama ini efektif dalam menanggulangi Covid-19.

Jika dinilai tidak efektif, sebaiknya segera diganti dengan merek lain yang lebih baik.

"Kita tidak ingin anggaran yang besar untuk pembelian vaksin impor terbuang sia-sia. Karena itu Pemerintah harus menyetop impor vaksin Sinovac ini, sampai diperoleh hasil evaluasi secara komprehensif," tuturnya.

Kalaupun harus impor, masih kata Mulyanto, maka vaksin yang dipilih haruslah yang berkualitas atau vaksin yang tingkat efikasinya tinggi. Lagipula, anggaran yang disediakan negara untuk pengadaan vaksin tidak sedikit.

Wakil Ketua FPKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan ini menambahkan, Pemerintah jangan tergantung dan mengandalkan satu merek vaksin. Sementara di dunia tersedia pilihan merek vaksin yang lebih baik.

"Jangan terkesan Pemerintah tunduk pada kepentingan pihak tertentu dalam hal pembelian vaksin ini.  Pemerintah harus memikirkan dan mengedepankan keselamatan rakyat," ucap dia.

"Kalau sekarang masyarakat melihatnya, Pemerintah seperti didikte mafia impor," demikian Mulyanto.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya