Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Skandal Pegasus: Dituding Mata-matai Presiden Macron, Maroko Tagih Bukti

RABU, 21 JULI 2021 | 23:10 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Skandal Pegasus yang diungkap oleh sejumlah media turut menyeret Maroko. Negara di ujung barat laut Afrika itu dituding ikut menggunakan spyware Pegasus untuk meretas ponsel Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dalam sebuah pernyataan resmi pada Rabu (21/7), Maroko telah membantah tuduhan tersebut dan menuntut agar mereka yang membuat klaim itu memberikan bukti.

"Pemerintah Maroko sepenuhnya menyangkal tuduhan palsu yang dibuat terhadapnya tanpa dasar apapun, dan menantang mereka yang mempromosikan kampanye ini, khususnya, koalisi Amnesty International dan Forbidden Stories... tunjukkan setidaknya beberapa bukti substansial dari naskah dramamu," ujar pemerintah, seperti dikutip Sputnik.


Maroko mengatakan, tuduhan terhadapnya membingungkan dan meragukan. Lebih lanjut, pemerintah mengatakan, tuduhan itu sekali lagi menempatkan negara sebagai korban serangan media dan organisasi internasional.

Dengan tegas, pemerintah menyebut pihaknya akan menggunakan cara hukum di tingkat internasional untuk menentang siapa pun yang membuat klaim palsu.

Pengungkapan skandal penggunaan alat mata-mata atau spyware Pegasus buatan perusahaan Israel, NSO, diterbitkan oleh sejumlah media dan beberapa organisasi pada Minggu (18/7).

Dilaporkan, alat tersebut telah meretas setidaknya 50 ribu nomor telepon di berbagai negara, mayoritas miliki politisi terkemuka, aktivis HAM, pengacara, jurnalis, hingga eksekutif bisnis.

Di antara mereka yang masuk dalam daftar target adalah Macron, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Irak Barham Salih, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly, Perdana Menteri Maroko Saad-Eddine El Othmani, mantan Perdana Menteri Belgia, dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel.

Kemudian pada Selasa (20/7), surat kabar Prancis, Le Monde, memuat, upaya memata-matai Macron telah dilakukan oleh Dinas Intelijen Maroko pada 2019.

Le Monde menyebut, nomor telepon Macron dan Perdana Menteri Prancis saat itu, Edouard Philippe, serta 14 menteri lainnya ikut menjadi sasaran peretasan.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Tak Pandang Bulu, Prabowo Akui Serahkan Dadan ke Kejaksaan

Kamis, 17 September 2026 | 12:29

MGBKI Soroti Isu Pendidikan Dokter Spesialis

Kamis, 17 September 2026 | 12:21

Prabowo Tugaskan Bahlil Bahas RUU Migas, SKK Migas Bisa Bubar!

Kamis, 17 September 2026 | 12:15

MNK Rokan Resmi Jadi Pionir Pengembanga Migas Nonkonvensional Indonesia

Kamis, 17 September 2026 | 12:13

Dasco Pastikan Seluruh Parpol Dilibatkan dalam Pembahasan Lanjutan RUU Pemilu

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

Ternyata Prabowo Suka Evidence-Based

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

SMEC Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata

Kamis, 17 September 2026 | 11:50

Berjalan Beriringan, Operasi PLTP Tak Pengaruhi Situs Waruga di Tomohon

Kamis, 17 September 2026 | 11:43

Optimalisasi Sumur Sepinggan V-7: PHKT Genjot Produksi Migas Lampaui Target

Kamis, 17 September 2026 | 11:35

Prabowo Ungkap Bakal Ada Investasi Besar-besaran Masuk RI

Kamis, 17 September 2026 | 11:19

Selengkapnya