Berita

Vaksin Covid-19 Sinovac/Net

Dunia

Mayoritas Negara Pengguna Vaksin 'Made In China' Alami Lonjakan Kasus, Diplomasi Vaksin Xi Jinping Gagal?

MINGGU, 18 JULI 2021 | 08:02 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

China menjadi salah satu produsen vaksin Covid-19 terbesar di dunia, dan telah memasok lebih dari 400 juta dosis ke berbagai negara, baik melalui bantuan maupun komersial.

Dengan banyaknya bantuan yang diberikan, diplomasi vaksin China layak diacungi jempol. Sebagai negara yang pertama yang mengidentifikasi Covid-19, China mengubah citranya menjadi negara penolong.

Namun diplomasi vaksin China terancam gagal dengan munculnya berbagai persoalan mengenai vaksin buatannya.


Dari laporan India Narrative pada Sabtu (17/7), sebagian besar negara pengguna vaksin Covid-19 "Made in China" seperti Sinovac dan Sinopharm saat ini justru tengah dilanda gelombang kedua.

Mulai dari Seychelles, Bahrain, Mongolia, Chili, hingga Indonesia yang menggunakan vaksin buatan China sebagai vaksin utama dilaporkan tengah menghadapi gelombang kedua Covid-19 yang mematikan.

Di Indonesia, rekor infeksi harian pecah pada Kamis (15/7), dengan 56.757 kasus Covid-19, dengan 982 kematian.

Keraguan terhadap efektivitas vaksin buatan China membuat sejumlah negara mempertimbangkan metode mencampur vaksin dan dosis booster.

Thailand sendiri sudah mengizinkan metode campur vaksin, dengan dosis pertama dari Sinovac dan dosis kedua dari AstraZeneca untuk meningkatkan keampuhan melawan virus.

Pertanyaan mengenai keampuhan vaksin buatan China juga membuat beberapa negara melarang pelancong dari negara-negara yang menggunakan vaksin tersebut untuk masuk.

Di samping itu, saat ini juga muncul persoalan mengenai harga yang ditawarkan China untuk vaksinnya.

Sebuah studi yang dilakukan Observer Research Foundation (ORF) menyebut, walaupun Presiden Xi Jinping telah menyebut vaksin buatan China sebagai barang publik global, namun nyatanya pendekatan dan harga yang ditawarkan oleh Beijing bias.

"Laporan tentang diplomasinya yang bersifat preferensial terhadap beberapa pihak telah menyebabkan banyak kegemparan. Agaknya, Sri Lanka membayar 15 dolar AS per dosis untuk Sinopharm, sementara Nepal dan Bangladesh hanya membayar 10 dolar AS per dosis," kata studi ORF.

Menurut ORF, dengan banyaknya tanda tanya terhadap vaksin buatan China justru memicu ketidakpercayaan global terhadap Beijing.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya