Berita

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy/Net

Politik

Heran Menko PMK Sebut RI Darurat Militer, KawalCOVID19: Melompat Dari 2020 Yang Tolak Karantina Wilayah

SABTU, 17 JULI 2021 | 17:15 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Istilah "Darurat Militer" yang dipakai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy, dalam menggambarkan kondisi penanganan Covid-19 sekarang ini dikritik KawalCOVID19.

Co Founder KawalCOVID19, Ainun Najib, mengaku heran dengan pernyataan Muhadjir yang secara tiba-tiba menyebut penanganan pandemi di dalam negeri menjadi darurat militer.

Padahal menurutnya, pada 2020 lalu pemerintah ogah menerapkan kebijakan Karantina Wilayah hanya karena alasan tidak punya cukup anggaran.


Sehingga, Ainun Najib menganggap pemerintah telah gagal paham dengan langkah intervensi penanganan pandemi Covid-19. Selain karena pernyataan Menko PMK, ia lebih sepakat opsi kebijakan darurat sipil digunakan dalam penanganan wabah asal Wuhan tersebut.

"2020 menolak Karantina Wilayah, bilang uangnya enggak ada. 2021 langsung lompat ke Darurat Militer. Saya boleh geram dengan Menko yang satu ini (Menko PMK Muhadjir Effendy) enggak?," ujar Ainun Najib dalam akun Twitternya, Sabtu (17/7).

Dalam kicauan tersebut, tokoh NU asal Gresik ini juga memposting ulang kicauan mantan Anggota Ombudsman, Alvin Lie, yang bertanya sekaligus memaparkan arti kata "Darurat Militer" yang disampaikan Muhadjir.

"Apa itu Darurat Militer seperti yang dikatakan Menko Muhadjir? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, darurat militer berarti 'keadaan darurat suatu wilayah yang dikendalikan oleh militer sebagai pemimpin tertinggi'," kicaua Alvin Lie hari ini.

Ainun Najib menambahkan, opsi darurat sipil sudah cukup menjadi langkah penanganan Covid-19. Karena secara arti, darurat sipil berbeda makna dengan darurat militer.

"Just to be clear. Saya setuju dengan opsi Darurat Sipil. Tapi kalau Darurat Militer itu beda lagi urusannya," demikian Ainun Najib.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Mojtaba Khamenei Janjikan Kekalahan Pahit bagi AS-Israel

Minggu, 19 April 2026 | 16:14

Wondr Kemala Run 2026 Putar Roda Ekonomi hingga Rp140 Miliar

Minggu, 19 April 2026 | 16:06

India Protes ke Iran, Dua Kapalnya Ditembak di Selat Hormuz

Minggu, 19 April 2026 | 15:33

Didik Rachbini: Video Ceramah JK Direkayasa untuk Memecah Belah

Minggu, 19 April 2026 | 15:29

Ketua GPK: Isu Pemecatan Massal PPP Menyesatkan

Minggu, 19 April 2026 | 14:57

KPK Soroti Risiko Korupsi Pinjaman Luar Negeri

Minggu, 19 April 2026 | 14:13

MUI Dorong Penguatan Akhlak di Kampus untuk Cegah Kekerasan Seksual

Minggu, 19 April 2026 | 14:09

Iran Ringkus 127 Orang Terduga Mata-mata Musuh

Minggu, 19 April 2026 | 13:39

Cak Imin Wanti-wanti Penyalahgunaan Vape untuk Narkoba

Minggu, 19 April 2026 | 13:25

Menkop Ajak DPRD Dukung Kopdes Jadi Mesin Ekonomi Baru

Minggu, 19 April 2026 | 13:10

Selengkapnya