Berita

Vaksin Covid-19 Sinovac/Net

Global

Media Asing: Lonjakan Kasus Covid-19 Di Indonesia Bukti Kegagalan Vaksin Sinovac

MINGGU, 11 JULI 2021 | 07:23 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Keraguan dunia terhadap vaksin Covid-19 buatan perusahaan China, Sinovac, semakin tinggi ketika Indonesia mengalami lonjakan infeksi secara signifikan. Lantaran peningkatan kasus dan kematian bukan hanya terjadi pada mereka yang belum divaksinasi, namun juga sebaliknya.

Sejak memulai program vaksinasi, Indonesia telah menggunakan Sinovac sebagai vaksin utama. Data pemerintah per 9 Juli 2021, Indonesia telah menerima 119.735.200 dosis vaksin Covid-19. Sebanyak 108,5 juta di antaranya vaksin Sinovac.

Sementara sekitar 8,2 juta dosis adalah vaksin AstraZeneca dari fasilitas COVAX, 1,5 juta dosis vaksin Sinopharm, 998 ribu dosis vaksin AstraZeneca dari Jepang, dan 500 ribu dosis vaksin Sinopharm dari Uni Emirat Arab (UEA).


Data Satgas Penanganan Covid-19 per 10 Juli 2021 menunjukkan, sebanyak 36.193.076 orang telah divaksinasi dengan dosis pertama, dan 14.969.330 orang telah divaksinasi penuh.

Di antara mereka yang telah divaksin secara penuh adalah tenaga medis yang masuk kelompok prioritas. Tetapi hampir seluruh tenaga medis sudah divaksinasi, ratusan dari mereka terpapar Covid-19 dan puluhan di antaranya meninggal dunia.

Hal itu disoroti oleh sejumlah media asing, termasuk WION TV dari India. Dari siarannya pada 28 Juni 2021, WION menyimpulkan, banyaknya kematian di antara tenaga medis di Indonesia setelah vaksinasi merupakan bukti vaksin Sinovac telah gagal.

"Indonesia telah menandatangani pembelian puluhan juta dosis vaksin Sinovac dengan China pada Agustus 2020. Sepuluh bulan kemudian, vaksin buatan China telah memicu krisis," ujar penyiar.

Menurut WION TV, sedikitnya 20 dokter di Indonesia telah meninggal dunia, meski mereka sudah divaksinasi penuh dengan Sinovac. Selain itu, masih ada 31 kasus yang masih diinvestigasi.

Dari 90 persen atau 160 ribu tenaga kesehatan yang sudah divaskinasi Sinovac, banyak dari mereka terpapar Covid-19.

Di Kudus, 358 tenaga kesehatan positif Covid-19 dari pertengahan hingga akhir Juni. Pada bulan itu, 300 tenaga kesehatan di Jawa Tengah juga terinfeksi.

"Sistem kesehatan Indonesia hampir kolaps, di tengah pertanyaan mengenai efektivitas vaksin China," lanjutnya.

Namun menurut WION, Indonesia tidak sendiri. Ada beberapa negara yang "menyesali" keputusan menggunakan vaksin China.

Sejauh ini, China telah mengekspor 729 juta dosis vaksin ke 43 negara, sebanyak 25 juta dosis di antaranya merupakan donasi.

Di Mongolia, 52 persen populasinya telah divaksinasi, mayoritas dengan Sinovac. Namun pada Juni, kasus harian di Mongolia naik dua kali lipat dari bulan sebelumnya, menjadi di atas 2.000.

Situasi serupa terjadi di Seychelles. Negara di timur laut Madagaskar itu telah memvaksinasi 64 persen populasinya. Namun kasus Covid-19 per kapitanya lebih tinggi dari India.

Sementara Bahrain, 60 persen dari vaksin yang digunakan adalah Sinovac. Saat ini publik di Bahrain menuntut agar vaksin tersebut diganti.

Selain memicu pertanyaan mengenai rendahnya efikasi vaksin Sinovac, WION menyebut, situasi ini mengungkap adanya politik dalam infrastruktur kesehatan global.

Sinovac telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1 Juni, dengan alasan efikasinya memenuhi standar. Tetapi dengan banyaknya negara yang mengandalkan Sinovac namun mengalami lonjakan infeksi, WION merekomendasikan agar penilaian tersebut dievaluasi kembali.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya