Berita

Gurubesar ekonomi IPB, Prof. Didin S. Damanhuri/Net

Politik

Fokus Tangani Pandemi, Kesampingkan Dulu Urusan Oligarki Bisnis, Pemilu 2024, Dan Pemindahan Ibukota

SABTU, 10 JULI 2021 | 09:18 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Bangsa Indonesia dikhawatirkan akan mengalamai krisis berkelanjutan imbas dari varian Delta Covid-19. Untuk itu, harus ada perubahan kebijakan PPKM Darurat.

Pentingnya perubahan penanganan Covid-19 baik perubahan kelembagaan, pengorganisasian maupun sikap mental penyelenggara negara.

Demikian pokok pikiran yang berkembang dalam diskusi daring dengan tema "Quo Vadis Tata Kelola Penanganan Covid-19", Jumat (10/7). Hadir sebagai pembicara, Prof. Didin S. Damanhuri (gurubesar ekonomi IPB), Sidrotun Naim (pengkaji kebijakan dan inovasi, IPMI Business School dan Research Affiliate Harvard Kennedy School), dan Anthony Budiawan (Managing Director PEPS).


Untuk menghindari Indonesia menjadi negara terburuk penanganan Covid-19 di dunia, Prof. Didin S. Damanhuri meminta pemerintah membentuk lembaga independen yang khusus menangani Covid-19. Dia meminta adanya lembaga permanen bukan seperti yang ada sekarang ini.

"Saya kira pemerintah harus berani mengambil keputusan lembaga permanen yang independen ini seperti saat menangani bencana tsunami Aceh dan jangan kemudian bekerja kayak sambilan gitu. Yang terakhir tiga macam ini kayak sambilan. Nyambi Kepala BNPB, BUMN, Menko Marves," ujar Didin.

Dia melihat hingga sejauh ini wewenang penanganan Covid-19 selalu berpindah tangan, mulai dari di bawah kendali Kepala BNPB, Menteri BUMN, hingga Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves) sehingga sejauh ini penanganan pandemi di Indonesia tergolong buruk, padahal situasi ancaman kasus sudah sangat mengerikan.

"Karena itu, konsekuensinya harus ada keputusan yang menjawab realitas itu. Jadi, apabila untuk penanganan Covid-19, tidak ada salahnya tersentralisasi kembali. Misalnya, kepala daerah jadi subordinasi yang dipimpin langsung oleh Presiden," Ujar Didin dalam diskusi yang dipandu Achmad Nur Hidayat, pendiri Narasi Institute itu.

Didin juga meminta pemerintah mengesampingkan urusan lain yang tidak relevan dengan penanganan Covid-19, termasuk oligarki bisnis, Pemilu 2024, pembangungan infrastruktur, pemindahan ibukota dan sebagainya.

"Semua pihak tidak ingin dirugikan, tapi kan harus ada sebuah institutional building yang kepentingannya nasional, jadi rakyat keseluruhan yang dipikirkan. Tidak lagi kepentingan yang politis. Ini bahaya sudah di depan mata. 5 bulan lalu kita tidak terbayang akan jadi yang tertinggi di dunia, kini kita tertinggi," ujar Didin.

Dia menyampaikan, seharusnya Indonesia berkaca pada penanganan Covid-19 di Amerika Serikat (AS), sebagai negara yang juga memiliki penduduk besar seperti Indonesia.

Tahun lalu, AS merupakan negara tertinggi angka kasus Covid-19. Namun kini, di bawah pemerintahan Joe Biden, AS telah mampu melakukan herd immunity terhadap 80 persen populasi negaranya.

"Ekonomi Amerika sudah positif dan secara gradual sudah nomor delapan. Jadi, saya kira Indonesia perlu mengaca pada Biden dalam mengambil langkah, karena Amerika sama-sama negara dengan penduduk yang besar," kata Didin.

Akan tetapi, orang-orang yang akan dibebankan wewenang dalam lembaga tersebut harus dipastikan kredibilitasnya. Bahkan, Didin menambahkan, publik juga harus mengetahui proses penentuan orang-orang yang akan diberikan otoritas lembaga penanganan Covid-19 itu.

Karena menurutnya, tata kelola penanganan Covid-19 hingga sejauh ini penuh dengan bias dan kepentingan yang masuk dalam berbagai keputusan.

"Di balik itu (penanganan Covid-19), ada bisnis besar menurut investigasi beberapa media. Jadi, ini memang tantangan besar. Karena Indonesia
akan krisis berkelanjutan dengan penyakit ini," ucap Didin.

Juga hadir dalam Zoominari Kebijakan Publik Narasi Institute itu, tokoh pergerakan Bursah Zarnudi, dan ekonom senior Fadhil Hasan dan berbagai tokoh lainnya.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya