Berita

Lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia baru-baru ini mengundang keprihatinan dri banyak pihak, tidak terkecuali media asing/Reuters

Dunia

Media Singapura: Kewalahan, Dokter Di Indonesia Hadapi Pilihan Sulit Soal Siapa Yang Harus Diselamatkan

KAMIS, 08 JULI 2021 | 18:59 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia baru-baru ini mengundang keprihatinan dari banyak pihak, tidak terkecuali media asing.

Pada Rabu (7/7), media Singapura The Straits Times mempublikasikan artikel berjudul "Indonesian doctors face tough choice of who will live or die at overrun Covid-19 hospitals".

Dalam artikel tersebut, mereka menyoroti soal kondisi banyak rumah sakit di Indonesia saat ini yang mengalami kondisi kekurangan tempat tidur, minim pasokan oksigen serta ventilator. Situasi tersebut membuat para dokter pun harus mengambil keputusan yang mengerikan tentang siapa di antara pasien Covid-19 mereka yang akan hidup dan siapa yang akan mati.


Bukan omong kosong belaka. Salah satu cerita yang diangkat adalah pengalaman seorang dokter di Rumah Sakit Umum Kramat Jati Jakarta Timur bernama Dokter Nur Chandra Bunawan. Dia menuturkan bahwa dalam 11 tahun karirnya sebagai dokter, dia tidak pernah mengalami situasi seperti yang terjadi saat ini.

"Sangat sulit untuk menemukan rumah sakit sekarang. Kami seringkali harus memutuskan pasien mana yang memiliki peluang lebih baik untuk bertahan hidup. Kita harus memilih pasien mana yang memiliki peluang lebih besar untuk hidup," jelasnya kepada The Straits Time.

"Kenapa harus begini, kenapa harus memilih? Ini keputusan yang sulit. Semua kehidupan sama. Tapi karena oksigen dan ruang terbatas, kita harus memilih," tambah dokter penyakit dalam itu.

Tidak sedikit dari warga yang membutuhkan bantuan mendesak lari ke media sosial untuk meminta batuan, baik mencari kamar kosong, tabung oksigen ataupun plasma darah.

Selain itu, karena membludaknya pasien, sejumlah tenda darurat untuk perawatan pun didirikian di sejumlah daerah, termasuk Jakarta, Bekasi dan Solo.

Di tengah situasi tersebut, platform data warga LaporCovid-19, yang telah membantu orang menemukan tempat tidur rumah sakit pun angkat tangan. Pekan lalu, mereka mengumumkan bahwa mereka tidak dapat lagi menerima permintaan bantuan, karena sangat sulit bagi sukarelawannya untuk mencari tempat tidur yang kosong.

Penuturan lain datang dari seorang dokter bernama dokter Galuh Chandra Kirana Sugianto, yang bekerja di dua rumah sakit swasta di Jakarta. Dia menilai, situasi saat ini di luar kendali.

Dalam penuturannya kepada The Straits times, dia mengatakan bahwa terkadang dirinya merasa tidak berdaya ketika berhadapan dengan pasien yang sakit parah di tengah keterbatasan peralatan, terutama ventilator.

Dia menjelaskan, beberapa faktor yang diperhitungkan saat memutuskan siapa yang bisa mendapatkan ventilator antara lain adalah asia, status perkawinan, dan riwayat kesehatan.

"Yang muda akan diprioritaskan. Mereka akan ditanya apakah sudah menikah atau masih lajang. Kami akan memilih yang pencari nafkah, masih muda, tidak memiliki penyakit penyerta dan memiliki peluang lebih besar untuk sembuh," ujarnya.

"Kami benar-benar berada pada titik di mana kami harus memilih siapa yang harus diselamatkan," sambungnya.

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh Sekjen Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), dokter Lia Partakusuma. Dia mengatakan, meski tingkat hunian tempat tidur secara nasional masih mencapai 74 persen, namun banyak rumah sakit di pulau Jawa sudah mencapai 100 persen.

"Dokter umumnya mempertimbangkan siapa yang memiliki peluang hidup lebih besar. Tidak dapat dihindari bahwa di tengah situasi kacau ini, mereka yang kemungkinan dapat bertahan akan diselamatkan terlebih dahulu," katanya tentang situasi yang disebutnya "darurat".

Dia juga mencatat bahwa hunian tempat tidur di sejumlah rumah sakit di seluruh pulau Bali juga naik menjadi 70 persen, dari sekitar 50 persen pada pekan lalu. Selain itu, hunian tempat tidur di rumah sakit di beberapa provinsi di luar Jawa dan Bali, seperti Aceh, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah, juga naik cukup signifikan.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Ini Alasan Nusron Wahid Tak Nongol di DPR Usai Anak Buah Dicokok KPK

Rabu, 16 September 2026 | 16:28

Prabowo Sampaikan Duka Cita atas Kecelakaan KM Virgo Transport 8

Rabu, 16 September 2026 | 16:17

Panja RUU Pemilu Dipastikan Dibentuk Tahun Ini

Rabu, 16 September 2026 | 16:15

Perlu Diusut Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Muara Baru

Rabu, 16 September 2026 | 16:11

PT 5 Persen Bikin Partai Nonparlemen Makin Berat ke Senayan

Rabu, 16 September 2026 | 16:10

Prabowo Resmikan LRT Kelapa Gading-Manggarai, Danantara Diminta Ikut Bantu

Rabu, 16 September 2026 | 16:09

Bapemperda DPRD DKI Dorong Penguatan Perlindungan Anak di Ruang Digital

Rabu, 16 September 2026 | 16:00

OPM Bunuh Sopir Angkutan Masyarakat, Mobil Dibakar

Rabu, 16 September 2026 | 15:47

Kolaborasi Lintas Lembaga Terus Diperkuat Meski Karhutla Menurun

Rabu, 16 September 2026 | 15:44

KPK Periksa 3 ASN BPK terkait Dugaan Suap Pengubahan Audit Pemkab Muara Enim

Rabu, 16 September 2026 | 15:32

Selengkapnya