Berita

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin/Net

Kesehatan

Dukung Perubahan Sistem Zonasi Oleh Menkes, KawalCovid19: Tolong Strategi Monitoringnya Pak, Suka Kecolongan!

SELASA, 06 JULI 2021 | 14:59 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Sistem zonasi Covid-19 bakal diubah Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, setelah ditemukan penyimpangan oleh pemerintah daerah.

Sekumpulan relawan yang tergabung di dalam KawalCOVID19 mendukung langkah yang diambil Budi tersebut.

Hanya saja, KawalCOVID19 berharap kepada Budi bisa membuat strategi pengawasan (monitoring) yang mumpuni untuk pelaksanaan kebijakan zonasi Covid-19 yang baru nanti.


Karena pada dasarnya, temuan Kemenkes tentang permainan rasio tes Covid-19 oleh pemerintah daerah kerap kali terjadi berulang. Sehingga, penilaian di daerah tersebut nampak baik, padahal memiliki risiko tinggi penularan.

"Sudah bener ini. Mantap, Pak Budi G Sadikin! Kami dukung. Tapi tolong pikirkan strategi monitoring dan evaluasi lapangannya pak, suka kecolongan di situ!" kicau akun Twitter KawalCOVID19 pada Selasa (6/7).

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI kemarin, Budi menyampaikan rencana perubahan sistem zonasi Covid-19, karena ada temuan sejumlah pemerintah daerah yang mengakali data penularan kasus di wilayahnya.

Budi menuturkan, pemerintah daerah takut dicap gagal karena menemukan banyak kasus. Sehingga, hasil testing yang ada di wilayah itu tidak dibuka secara transparan atau tidak melakukan testing secara masif.

Padahal, jika mengacu pada target tes minimum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah daerah harus melakukan tes 1:1.000 penduduk per Minggu.

Maka dari itu, Budi memastikan bahwa perubahan sistem zonasi Covid-19 nantinya tidak lagi berdasarkan zona merah, oranye, kuning atau hijau.

Akan tetapi, pemerintah akan melihat kondisi penyebaran Covid-19 di satu daerah berdasarkan rasio tes, dan pemerintah pusat akan mengecek jumlah tes yang digelar di satu daerah setiap harinya.

Selain itu, pemerintah juga akan mengecek jumlah orang yang positif Covid-19 dari seluruh peserta tes per hari (positifity rate).

Maka, jika (positifity rate) masih tinggi artinya banyak orang yang tertular.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya