Berita

Warga berlindung dari gelombang panas di stasiun pendingin Oregon Convention Center/Getty Images

Dunia

Gelombang Panas Serang AS Dan Kanada, Ratusan Orang Dilarikan Ke Rumah Sakit

RABU, 30 JUNI 2021 | 10:50 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Gelombang panas yang menyerang Amerika Serikat (AS) dan Kanada membuat ratusan orang dilarikan ke rumah sakit dengan situasi yang "mengancam jiwa".

Pada Minggu (27/6), suhu tertinggi di sejumlah wilayah di Kanada dan AS telah memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa.

Di Lytton, British Columbia, Kanada, rekor suhu mencapai 46,6 derajat Celcius. Sedangkan di Portland, Oregon, AS, suhu mencapai 44 derajat Celcius.


Laporan Oregon Public Broadcasting menyebutkan, sejak akhir pekan lalu, bermunculan pasien dengan penyakit terkait panas. Dimuat The Independent, sekitar 200 orang dilarikan ke rumah sakit di Oregon sejak Jumat (25/6).

Petugas kesehatan daerah, Jennifer Vines mengaku menerima rekor 410 panggilan pada Minggu. Ia menyebut gelombang panas telah menjadi ancaman kesehatan yang serius.

"Ini adalah panas yang mengancam jiwa," ujarnya.

Gelombang panas juga disebut telah dikaitkan dengan kematian dua pria tunawisma ditemukan selama akhir pekan di sebuah perkemahan di Bend.

Selain Oregon, Layanan Cuaca Nasional AS telah mengeluarkan peringatan panas untuk sebagian besar Washington dan sebagian California dan Idaho.

Layanan Cuaca juga mendesak orang-orang menghindari panas sebanyak mungkin karena gelombang panas menyebabkan kabel kereta meleleh dan jalan retak di beberapa daerah.

Bahkan sekolah dan pusat pengujian Covid-19 terpaksa ditutup. Stasiun pendingin telah dibuka untuk memberikan bantuan kepada penduduk dari panas.

Temperatur yang tinggi juga menyebabkan penundaan acara kualifikasi Olimpiade di Eugene, Oregon, tidak jauh dari Portland.

Environment Canada juga telah mengeluarkan peringatan untuk gelombang panas, termasuk peningkatan permukaan sungai karena pencairan gletser dan risiko kebakaran hutan karena kondisi kekeringan.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya