Berita

Salah satu pusat perbelanjaan di Perth, Australia Barat/Ist

Publika

Perth, Kembali Ke Titik Awal Pandemi

SENIN, 28 JUNI 2021 | 16:15 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

BARU lima hari merayakan kemerdekaan dari virus Covid-19, hari Minggu (27/6) warga Perth, Australia Barat, kembali diwajibkan menaati protokol kesehatan di tempat umum. Mengenakan masker, menjaga jarak, dan sesering mungkin mencuci tangan. Seperti di awal pandemi tahun lalu.

"Ini gegara satu orang baru datang dari Sydney, yang positif Covid-19 ketika menjalani tes", kata Sjahrir Laonggo, sahabat Warga Perth, via WA.

"Menteri Kesehatan Australia Barat mengumumkan jam 12 siang kemarin. Semua orang diwajibkan pake masker. Saya sendiri baru tahu setelah mau masuk ke Bunnings (toko penjual alat-alat perkebunan). Ditahan depan pintu dan dilarang masuk tanpa masker, "sambung Sjahrir. Belum ada penjelasan, virus varian apa yang menjangkiti satu warga  itu.


Berdasar informasi Sjahrir juga Rabu (23/6) Juni lalu, saya menulis kabar gembira mengenai keberhasilan Australia menaklukkan virus Covid-19.

Satu kasus sudah bikin pemerintah panik?

"Iya, Pak. Di sini begitu. Tidak sampai menunggu lama, pemerintah langsung bikin larangan tegas," ujar Sjahrir.

Sejak pandemi tahun lalu, di Australia Barat tercatat 1.022 kasus positif, 1.010 sembuh, dan 9 wafat.

Jumlah penduduk Perth, Australia sekitar 2 juta jiwa sedangkan populasi penduduk satu benua Australia seluruhnya 25 juta. Tidak sampai sepersepuluh penduduk Indonesia.

Dengan mudah kita bisa menunjuk jumlah penduduk itu menjadi faktor penentu keberhasilan Australia, sekurangnya mengendalikan pandemi.

Minggu lalu Sydney, ibukota negara bagian New South Wales (NSW), Australia memang kembali lockdown. Tapi jumlah kasus di sana tidak banyak.

Di Australia, satu dua warga terpapar positif langsung lockdown. Itu sudah berulang- ulang terjadi. Tampaknya, lockdown bagian dari strategi mereka menekan laju pertumbuhan virus.

Sejak pandemi, Australia membukukan 30.449 kasus postif, dan 910 warga yang wafat.

Bagaimana dengan kondisi di Tanah Air?

Data harian pertanggal 27/6 jumlah kasus positif 21.342 jiwa (termasuk DKI 9.324). Sejak pandemi awal Maret tahun lalu, total kasus di Indonesia pertanggal 27/5 adalah 2.115,304, sembuh 1.850.481. Yang meninggal : 57.138.

Memang kurang fair membandingkan penanganan pandemi di Australia dengan Indonesia. Kalau mengacu pada populasi penduduk. Tapi bagaimana dengan beberapa provinsi di Indonesia yang berpenduduk relatif kecil dan pemerintahannya menerapkan otonomi daerah?

Sebagai contoh Daerah Istimewa Yogyakarta yang berpenduduk 3, 8 juta jiwa; Kalimantan Timur (3,7 juta) dan Kepulauan Riau (2,2 juta).

Sampai sekarang tiga provinsi itu juga belum bebas Covid-19. Malah selalu masuk dalam daftar 10 besar provinsi dengan warga terbesar positif Covid-19 dalam data harian.

Bekerja Keras

Kita tidak meragukan tekad dan kemampuan pemerintah menangani pandemi. Sejak kasus Covid-19 ditemukan pada pasien 1 dan 2 awal Maret 2020 sudah bekerja keras menangani pandemi.

Sudah berapa banyak lembaga dibentuk pemerintah untuk tujuan itu. Program pembatasan mobilitas juga sudah berganti-ganti judul. Disesuaikan dengan dinamika yang berkembang.

Dana yang diguyurkan pun sudah ribuan triliun rupiah. Program untuk mengatasi warga terpapar, untuk bantuan sosial juga macam-macam judulnya, bahkan penghapusan pajak PPn BM untuk pembelian mobil dan banyak lagi.

Sayang ada banyak terjadi kebocoran dalam program bantuan untuk masyarakat yang terpalar. Anggaran dikorupsi pejabat pemerintah sendiri. Dari level bawah sampai menteri yang kini para pelakunya sudah berhadapan dengan hukum.

Hanya saja semua itu belum ditopang oleh praktek koordinasi dan pengawasan. Itu paling banyak disoroti pengamat dan publik hingga sekarang.

Yang menyedihkan koordinasi para pejabat yang ditugasi, juga di level menteri memang masih tumpang tindih. Dan, itu sejak dari awal pandemi merebak.

Padahal, sebenarnya, kalau saja pemerintah konsisten membatasi mobilitasi kerumunan warga disertai dengan alat pemaksa (hukum) tidak akan seambyar ini kondisi kita. Sayang jargon "keselamatan jiwa rakyat adalah utama, hukum tertinggi" menjadi wacana belaka.

Akhirnya membuat Gubernur Jabar dan Gubernur DI Yogyakarta hanya bisa lempar handuk ketika didesak melaksanakan lockdown.

"Tidak ada uang untuk membiayai lockdown," kata Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Pemerintah pusat, juga Sri Sultan dan Ridwan Kamil tampaknya lupa memperhitungkan azas gotong royong yang menjadi sistem nilai masyarakat kita. Azas saling menolong satu sama lain dalam satu komunitas.

Belum lekang dalam ingatan ketika tahun lalu warga di kampung berinisiasi sendiri menutup akses keluar masuk pemukiman mereka. Pasang bambu kayu di mulut-mulut jalan, membentang spanduk dengan tulisan sekenanya, seperti "Lauk Daun", " Lok Don,"Laud Down" dan macam-macam.

Pokoknya pesannya sampai, yang dimaksud adalah lockdown! Itu sebelum proyek-proyek bansos digelontorkan.

Penulis adalah wartawan senior.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya