Berita

Ilustrasi perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit/Net

Publika

Pandemi, Berita, Dan Kecemasan Sosial

MINGGU, 27 JUNI 2021 | 21:30 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MENCEKAM! Ruangan unit gawat darurat di sekitar Ibukota penuh sesak. Sebagian terpaksa ditangani hingga ke pelataran.

Lonjakan pasien terjadi, dokumentasi foto dan pemberitaan beredar hampir sepekan belakangan.

Sentra vaksinasi yang sempat surut peminat, kini kembali berjubel. Publik khawatir, sekaligus menjadi termotivasi untuk mulai melakukan perlindungan diri. Berita duka cita datang bertubi-tubi dari kawan terdekat.


Pandemi memang menghadirkan kebingungan. Keterbatasan pengetahuan untuk menjelaskan persoalan wabah, menyebabkan kita berada dalam kegelapan. Penuh ketidakpastian, kapan kiranya wabah segera berlalu?

Publik tampak dalam situasi ketakutan, tetapi tidak kurang sebagian diantaranya tetap menyangkal keberadaan wabah. Di antaranya menyebut wabah dan vaksin adalah paket bundling yang sudah direncanakan.

Teori konspirasi mendapatkan tempat di hati peminatnya. Belum utuhnya pengetahuan guna menjelaskan wabah, membuat asumsi persoalan pandemi berada di pangkal persengkongkolan elite global.

Sebagian mengakui keberadaan wabah, meski juga menolak atas dampak yang timbul karena dianggap terlalu over expose alias berlebihan. Media menjadi sarana penyebar kecemasan, menjual ketakutan -fear mongering.

Celakanya, media sosial menjadi arus utama kanal informasi publik. Di dunia digital terjadi ketercampuran antara informasi terverifikasi dan informasi yang tidak dikurasi, dan memang bisa jadi ditujukan untuk menciptakan bias interpretasi.

Situasi ini dikenal pula sebagai kondisi infodemi, dimana terjadi banjir informasi yang berbalut kesalahan, kekeliruan bahkan kebohongan mengenai pandemi. Kebingungan merebak di tengah masyarakat.

Publik mengalami histeria. Fobia lantas menyebar secara luas. Terjadi kecemasan berlebih, sebagai hasil konstruksi dari berbagai interaksi sosial yang terbentuk melalui peran media.

Situasi ini pula yang diungkap Rolf Dobelli dalam Stop Membaca Berita, 2021, bahwa yang seharusnya dipahami oleh publik dalam membaca berita adalah membangun relevansi sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Pemberitaan mengenai pandemi, seharusnya ditangkap tidak dalam nuansa kegelisahan, melainkan harus dimaknai sebagai kewaspadaan untuk tetap melaksanakan kehati-hatian serta disiplin dalam protokol kesehatan, guna mereduksi potensi penularan.

Dalam kajian Rolf, hal yang sepatutnya dibangun adalah kemampuan literasi publik dalam menyeleksi serta mencerna informasi. Bila kemudian hal itu menjadi bagian tersulit, maka saran Rolf sederhana, stop membaca berita.

Meski anjuran Rolf relatif hiperbolik, titik moderasi yang dapat dilakukan adalah diet konsumsi berita. Tidak tepat bila mengandaikan publik didikte oleh informasi dalam sebuah berita, karena sesungguhnya publik memiliki kemampuan untuk menentukan sikapnya secara bebas.

Media memiliki tugas untuk menyampaikan fakta yang akurat, berdasarkan etika jurnalistik, berpegang pada kebenaran, dengan itu media mainstream memiliki keunggulan dibandingkan media sosial yang mengakomodasi sifat anonim.

Sekali lagi peran media adalah mencerahkan publik, karena itu bijak dalam memilih sumber media menjadi pijakan awal, sebelum mencerna isi berita yang disampaikan.

Pilih dan pilah media berkualitas merupakan bagian dari kecerdasan bermedia. Selebihnya akan bergantung pada kemampuan atas rasionalitas publik untuk mengurai serta memahami isi berita.

Meningkatkan literasi informasi menjadi lebih bijak dibanding anjuran untuk stop membaca berita. Ketakutan tidak bisa dihadapi dengan mata terpejam, justru membutuhkan mata yang terbuka untuk melihat semua kemungkinan tersisa.

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Kejagung Periksa PNS Pemprov Banten terkait Korupsi MBG

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:17

Ahli dari Polri Untungkan Febri Adriansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:03

Kinerja BUMD DKI Dituntut Lebih Terukur

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:53

Bayar Rp650 Juta tapi Gagal Lolos Kedokteran Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:41

KPK Bongkar Mahar Rp1,12 Miliar di Jalur Mandiri Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:29

Kiai Marsudi Dinilai Mampu Membangun Kemajuan NU Tanpa Kehilangan Jati Diri

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17

Rektor Unsoed Diduga Terima Gratifikasi Rp680 Juta Lewat Mulyono

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:46

Ahli Praperadilan Febrie Sebut TPPU Perlu Tindak Pidana Asal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:29

Sjafrie Terima Menhan China: Perkuat Kerja Sama Militer

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:16

Mantan Dirdik Jampidsus Jasman Panjaitan Beberkan Kesaksian terkait Febrie

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:05

Selengkapnya