Berita

Guam/Net

Dunia

Selain Tarik Pasukannya, AS Akan Relokasi Warga Afghanistan Ke Guam

KAMIS, 24 JUNI 2021 | 08:57 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Banyak warga Afghanistan mulai gelisah menjelang tenggat waktu 11 September yang ditetapkan untuk menarik pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO.

Dengan kekerasan ekstremis yang terus meningkat selama proses penarikan pasukan asing, banyak warga Afghanistan mulai merencanakan eksodus.

Pekan lalu, Kongres AS mendesak pemerintahan Joe Biden untuk mengevakuasi ribuan warga Afghanistan yang selama dua dekade terakhir bekerja untuk diplomatik dan militer AS di sana.


“Kami memiliki kewajiban moral untuk melindungi sekutu pemberani kami yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk kami, dan kami telah bekerja selama berbulan-bulan untuk melibatkan pemerintah dan memastikan ada rencana, dengan sedikit hasil nyata,” ujar Perwakilan Republik Peter Meijer Michigan, seperti dikutip Associated Press.

Anggota parlemen telah mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan relokasi sementara warga Afghanistan ke lokasi luar negeri yang aman sementara visa AS mereka diproses.

Beberapa telah menyarankan Guam, wilayah AS yang juga menjadi tujuan eksodus setelah Perang Vietnam dan Perang Teluk 1996.

Gubernur Guam baru-baru ini menulis kepada Biden untuk mengatakan bahwa wilayah itu siap membantu jika diperlukan.

Sementara itu, pemerintahan Biden untuk saat ini berfokus pada percepatan program visa khusus untuk warga Afghanistan yang bekerja pada misi AS.

"Kami sedang bekerja dengan Kongres sekarang untuk merampingkan beberapa persyaratan yang memperlambat proses ini dan kami sedang melakukan perencanaan ekstensif untuk kemungkinan evakuasi, jika itu diperlukan," jelas sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki pada Rabu (23/6).

Perwakilan Demokrat Jason Crow dari Colorado baru-baru ini memperkenalkan RUU yang hampir menggandakan jumlah visa yang tersedia tahun ini, menjadi 8.000, serta memudahkan persyaratannya.

Namun meski RUU tersebut disahkan, jumlahnya tidak cukup untuk menampung 18.000 warga Afghanistan yang menyatakan keinginan untuk melarikan diri ke AS.

Angka itu juga belum termasuk pasangan dan anak-anak mereka, sehingga totalnya menjadi sekitar 70.000 orang.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Wall Street Keluar dari Tekanan, Nasdaq Melonjak 1,69 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 08:14

Binar Emas Kembali Berkilau, Harga Melesat Lebih dari 2 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 07:35

Bursa Eropa Menguat Tajam setelah Harga Minyak Turun

Jumat, 18 September 2026 | 07:02

UMKM Binaan Peratamina

Jumat, 18 September 2026 | 05:52

KPK Harus Hati-hati Buka Informasi Dugaan Korupsi Bea Cukai ke Publik

Jumat, 18 September 2026 | 05:25

PPN Kejawanan Diproyeksikan jadi Magnet Pertumbuhan Ekonomi Pesisir

Jumat, 18 September 2026 | 04:57

Momentum Memperkuat Akuntabilitas Belanja Negara

Jumat, 18 September 2026 | 04:25

Pembangunan di Papua Perlu Libatkan Kelembagaan Adat

Jumat, 18 September 2026 | 03:48

Perhutani Dorong Ekonomi Desa Lewat Penyaluran PUMK

Jumat, 18 September 2026 | 03:20

Mengawal Garibaldi

Jumat, 18 September 2026 | 02:55

Selengkapnya