Berita

Ilustrasi Covid-19/Net

Publika

Periode Kekuasaan Di Dua Juta Kasus Covid

SELASA, 22 JUNI 2021 | 14:31 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

BOOM! Laju pertambahan konfirmasi kasus Covid-19 meledak. Tidak tertahan lagi. Angkanya tembus dua juta kasus lebih.

Kita lebih sering mendengar nama orang-orang terdekat berpulang karena wabah akhir-akhir ini. Obituari berseliweran di linimasa media sosial.

Belum berhenti tekanan pandemi. Bahkan kita sudah memasuki tahun kedua dalam kepungan Covid-19 yang kini sudah bermutasi. Bila virus mampu bermutasi, justru kita yang masih kaku beradaptasi. Sulit memahami, bebal mempelajari. Sibuk dengan urusannya sendiri.


Tingkat kenaikan kasus sudah mulai diramalkan seiring dengan penurunan kedisiplinan dalam menjaga protokol kesehatan publik. Kesulitan ekonomi dan situasi kebosanan secara psikologis akibat pembatasan aktivitas fisik memicu keberanian yang tidak terkendali.

Tidak bijak menyoal kepatuhan publik sebagai pangkal permasalahan. Pengambil kebijakan pun tidak luput dalam andil pertambahan kasus. Periode hari libur, pembukaan lokasi wisata hingga tampak separuh hati dalam membatasi publik juga menjadi faktor yang terkait.

Hal puncak dari fungsi komunikasi publik tidak berjalan utuh, yakni menjalankan kerangka edukasi dan persuasi publik untuk patuh.

Walhasil, tingkat keterisian pasien Covid-19 di rumah sakit berlimpah. Paparan ke tenaga kesehatan mulai terjadi. Kematian tidak terhindari.

Lagi-lagi, angka hanya menjadi pelengkap data. Kematian akibat wabah terhitung 54 ribu nyawa. Padahal nyawa manusia sangat tak ternilai harganya.

Di sini letak kebebalan bermula. Ranah politik domestik lebih dominan dari segalanya. Prinsip salus populi suprema lex esto selalu disebut, menyatakan keselamatan publik sebagai hukum tertinggi terlihat menjadi pemulas bibir.

Panggung Politik

Gegap-gempita pergerakan kepentingan politik terlihat dari upaya menjajaki pasangan calon dalam kombinasi yang akan diajukan pada 2024.

Lebih absurd lagi, usulan pertambahan masa kekuasaan. Kasak-kusuk usulan tiga periode sudah dimunculkan ke permukaan.

Wajah kekuasaan dipertaruhkan untuk meredam ide liar yang menyalahi aturan konstitusi. Meski memang amandemen bisa dilakukan dengan kesepakatan segelintir elite oligarki.

Kursi kekuasaan itu diperebutkan sekaligus dibagi-bagi, perhitungannya terletak pada distribusi benefit dan privilege yang didapat.

Kita takjub dengan perilaku inkonsisten kekuasaan. Apa yang hari ini dinyatakan tidak, besok hari bisa berubah dengan berbagai alasan.

Kalau saat ini masih menolak, bukan tidak mungkin ke depan akan mempersetujui bila ide liar itu terus bergulir memenuhi media massa dan media sosial dalam membentuk opini publik.

Hingga akhirnya, skenario cerita politik berhenti pada pernyataan: "bila rakyat menghendaki, saya siap mengambil tanggung jawab".

Rekam jejaknya bisa dilacak dari riwayat eskalasi kekuasaan, termasuk tentang politik dinasti. Publik tampaknya harus sekuat mungkin menolak ide-ide absurd dengan dalih menjaga harmoni serta keamanan di masa mendatang.

Demokrasi akan selalu hingar-bingar, batasnya adalah rasionalitas dan etika. Tanpa pembatasan moral tersebut, riuh rendah tentang masa berkuasa akan mudah dimainkan oleh kepentingan kekuasaan itu sendiri.

Kembali ke persoalan, pandemi sudah selayak menjadi fokus konsentrasi utama yang harus ditangani dengan memastikan kepentingan publik.

Pembahasan tentang ide out of the box penambahan masa kekuasaan dan hiruk-pikuk berburu kursi kuasa di masa pandemi membuktikan karakter dasar oligarki.

Sementara itu, publik memang hanya menjadi deretan angka kalkulatif yang diperhitungkan sebagai target buruan di masa pemilihan politik.

Pada momentum dua juta kasus Covid-19 di tanah air, kita semestinya berhenti sejenak sembari membayangkan nama-nama mereka yang ada di berita obituari layar gadget kita.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya