Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Thailand Percepat Penelitian Perlunya Dosis Ketiga Vaksin Di Tengah Kemunculan Varian Covid-19 Yang Lebih Menular

SELASA, 22 JUNI 2021 | 09:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand saat ini sedang mempercepat penelitian kemungkinan diperlukannya suntikan vaksin Covid-19 ketiga untuk orang yang sudah divaksinasi penuh, mengingat munculnya varian virus corona tertentu yang lebih menular daripada yang lain.

Direktur Jenderal Departemen Pengendalian Penyakit (DDC) Thailand, Opas Karnkawinpong, mengatakan bahwa komite kementerian juga ditugaskan untuk menilai apakah aman bagi orang untuk disuntik menggunakan merek vaksin yang berbeda setelah suntikan pertama diberikan.

Opas, bagaimanapun, bersikeras bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan apakah suntikan booster benar-benar diperlukan dan apakah suntikan itu bisa berasal dari produsen yang berbeda.


"Pengetahuan (tentang virus dan vaksin diperbarui) terus-menerus sehingga kami perlu menunggu sampai kami memiliki informasi yang cukup untuk mendukung setiap keputusan baru yang harus diambil," katanya, seperti dikutip dari Bangkok Post, Selasa (22/6).

"Kami memiliki tim yang menindaklanjuti ini dan akan memutuskan apa yang paling cocok (untuk situasi Thailand)," lanjutnya.

Pernyataan Opas datang saat menanggapi pertanyaan tentang apakah perlu suntikan booster untuk penerima vaksin di Thailand dan apakah itu bisa berasal dari merek yang berbeda.

Dia mengatakan penelitian kementerian serupa dengan yang dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Yong Poovorawan, kepala Pusat Keunggulan Virologi Klinis di Universitas Chulalongkorn.

"Jumlah orang di Thailand yang terinfeksi varian virus corona Delta, yang pertama kali muncul di India, meningkat dan kemungkinan akan menggantikan varian Alpha, yang pertama kali diidentifikasi di Inggris, sebagai strain dominan yang menyebabkan infeksi," kata Yong.

Mengutip temuan dari sebuah studi baru yang diterbitkan oleh jurnal medis Inggris The Lancet pada 14 Juni, dia mengatakan tingkat respons imun yang jauh lebih tinggi terhadap vaksin Covid-19 diperlukan sebagai pertahanan yang efisien terhadap varian Delta.

"Baik vaksin Pfizer dan AstraZeneca dikutip dalam penelitian ini," katanya, menambahkan sebuah penelitian yang dilakukan di Skotlandia menunjukkan bahwa vaksin tersebut kurang efektif dalam mencegah infeksi yang disebabkan oleh varian Delta.

"Empat belas hari setelah suntikan kedua, vaksin Pfizer ditemukan 79 persen efektif dalam mencegah infeksi varian Delta, sedangkan vaksin AstraZeneca 60 persen efektif melawan strain," kata Yong.

"Dalam situasi yang sama, vaksin tersebut ditemukan hingga 92 persen dan 73 persen efektif terhadap varian Alpha," katanya.

"Sementara sebagian besar kasus di sini sekarang ditemukan sebagai varian Alpha, varian Delta dalam beberapa bulan ke depan akan mendominasi di Thailand, mengingat (mutasi) varian virus khusus ini," kata Yong.

Yong mengatakan Thailand mungkin harus mempersingkat periode antara tembakan AstraZeneca pertama dan kedua untuk mengurangi keparahan yang diperkirakan disebabkan oleh varian Delta.

Dia juga mengatakan suntikan ketiga mungkin perlu digunakan bagi vaksin Covid-19 lainnya yang menginduksi tingkat respons kekebalan yang lebih rendah sebagai penguat, sementara kerajaan menunggu vaksin baru dikembangkan untuk secara khusus menangani varian Delta.

"Sementara itu, Thailand perlu memantau dengan cermat bagaimana setiap varian virus corona yang ada menyebar untuk melacak semuanya, terutama varian Delta yang menyebar cepat," kata Yong.

Menanggapi meningkatnya kekhawatiran publik atas respons kekebalan yang lebih rendah yang disebabkan oleh vaksin Covid-19, Opas mengatakan kementerian juga memantau informasi yang diambil dari upaya vaksinasi massal yang sedang berlangsung.

"Pemerintah sedang dalam pembicaraan dengan pemasok vaksin tetapi beberapa dari perusahaan ini tidak ingin mengungkapkan terlalu banyak informasi tentang kesepakatan vaksin," katanya.

"Namun, semua orang di negara itu akan divaksinasi seperti yang dijanjikan," kata Yong.

Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan Masyarakat Anutin Charnvirakul dalam pernyataannya mengatakan, bahwa Jepang telah setuju untuk menyumbangkan dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca ke Thailand, yang diperkirakan akan tiba bulan depan.

"Jumlah pastinya masih belum bisa dipastikan," katanya.

Dia mengatakan Thailand sejauh ini telah mendapatkan 8,5 juta dosis lebih dari AstraZeneca dan Sinovac bulan ini saja, naik dari target awal 6 juta.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Prabowo Desak Bos Batu Bara dan Sawit Dahulukan Pasar Domestik

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Polisi Harus Ungkap Pelaku Serangan Brutal terhadap Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Aparat Diminta Gercep Usut Penyiraman Air Keras terhadap Pembela HAM

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Prabowo Ingatkan Pejabat: Open House Lebaran Jangan Terlalu Mewah

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Bahlil Tepis Isu Batu Bara PLTU Menipis, Stok Rata-rata Masih 14 Hari

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:38

Purbaya Lapor Prabowo Banyak Ekonom Aneh yang Sebut RI Resesi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:32

Kekerasan Terhadap Pembela HAM Ancaman Nyata bagi Demokrasi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:12

Setengah Penduduk RI Diperkirakan Mudik Lebaran 2026

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:07

Mentan: Cadangan Beras Hampir Lima Juta Ton, Cukup Hingga Akhir Tahun

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:48

Komisi III DPR Minta Dalang Penyerangan Air Keras Aktivis KontraS Dibongkar

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:32

Selengkapnya