Berita

Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati/Repro

Kesehatan

Makin Marak, Diskriminasi Menghambat Upaya Melawan Pandemi Covid-19

JUMAT, 18 JUNI 2021 | 16:36 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Diskriminasi menjadi masalah yang semakin marak muncul di tengah pandemi Covid-19. Tindakan diskriminasi juga membuat upaya untuk menghentikan pandemi Covid-19 semakin sulit dilakukan.

Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati menjelaskan, diskriminasi merupakan fenomena yang umum terjadi. Tetapi di masa pandemi Covid-19, fenomena ini semakin banyak karena beberapa faktor.

"Pertama, Covid ini sesuatu yang baru. Butuh waktu bagi manusia untuk merespon hal tersebut. Reaksi alamiah manusia ketika berhadapan fenomena baru ada dua, yaitu mereka bertempur atau fight, kedua mereka flight atau berlindung, menjauh dari persoalan itu," jelas Devie dalam diskusi virtual Bincang Sehat pada Jumat (18/6).


Ketika manusia memilih untuk bertempur, maka mereka akan bersama-sama berjuang untuk melawan pandemi Covid-19. Namun jika manusia memilih untuk berlindung atau menjauh, maka akan muncul diskriminasi, yang diekspresikan dengan labelling atau stigmatisasi.

Akibat dari stigmatisasi negatif tersebut, objek atau korban diskriminasi akan berusaha menutup diri, enggan mencari bantuan, bahkan urung melakukan upaya pencegahan.

"Dia tidak mau mencari bantuan, tidak melaporkan, tidak meminta bantuan, sehingga bisa jadi mengalami akibat yang parah hingga kematian," jelasnya.

Mereka yang telah terinfeksi dan mendapat stigma negatif, pada akhirnya akan berusaha untuk menutup diri, sehingga perilakunya berisiko, seperti tidak memakai masker atau mencuci tangan.

"Ini bisa merugikan orang banyak. Perlu upaya serius untuk mengedukasi publik. 'Tidak apa-apa ada orang yang sakit, kita bantu agar mereka sembuh, agar pandemi berakhir'. Cara pandang ini yang sehat," pungkasnya.

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

UPDATE

Menteri Haji Usul BPIH 2027 Naik 10-15 Persen

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:22

Perpres Ojol 2026 Dikebut, Ini 3 Tarif yang Bakal Diatur Pemerintah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:12

Film Insidious: Out of the Further Resmi Tayang di Indonesia, Ini Sinopsisnya

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:01

Penyegaran AKD Golkar Strategis Perkuat Kinerja DPR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:54

Rupiah Menguat Rp17.840 Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:38

Trump Hentikan Latihan Militer AS-Korsel Lebih Cepat Demi Hubungan Baik dengan Korut

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:26

IGCE 2026 Momentum Indonesia Jadi Raksasa Geothermal Dunia

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:23

Polri-Kejagung Kompak Minta Hakim Tolak Praperadilan Febrie Adriansyah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:21

Mantan Pelatih Pelatnas Panjat Tebing Jadi Tersangka Pelecehan Atlet

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:01

Gerak Cepat Pemerintah Harus Dirasakan Rakyat NTT

Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:45

Selengkapnya