Berita

Ilustrasi/Net

Adhie M Massardi

Sidang Umum Majelis Iblis Se-Dunia

JUMAT, 11 JUNI 2021 | 14:28 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

Syahdan, Iblis seantero jagat raya menggelar Sidang Umum abadan. Sidang abad 21 yang semula direncanakan digelar di Segitiga Bermuda dipindah ke Antartika yang lebih representatif. Mulai 10 Juni hingga 20 Juli 2021. Agendanya: Evaluasi Total atas Kegagalan Menggagalkan Umat Manusia Beribadah.

ANTARTIKA -- Sidang Umum Majelis Iblis se-Dunia, agenda yang digelar seabad sekali, pada abad 21 ini dilaksanakan di benua paling dingin di muka bumi, Antartika.

Dihadiri oleh delegasi Iblis yang ditugaskan menggoda umat manusia di seluruh negara di dunia, agenda utama Sidang Umum Iblis se-Dunia kali ini mengevalusai secara total dan komprehensif:


“Kenapa sudah ribuan tahun dilakukan Iblis gagal menggoda manusia untuk menggagalkan ibadah, meninggalkan ketaatan dan kecintaan manusia kepada Allah Tuhan Yang Maha Suci.”

Perwakilan Iblis yang paling dianggap gagal adalah yang ditugaskan beroperasi di negara-negara Muslim, atau negara dengan umat Islam yang besar.

Dalam pembukaan sidang, Sekjen Majelis Iblis, yang memiliki reputasi canggih karena berhasil menggoda Adam dan Hawa hingga dihukum Tuhan dikeluarkan dari Surga Firdaus ke Dunia, minta pertanggungjawaban para Iblis yang beroperasi di dunia Muslim.

“Iblis yang beroperasi di negara komunis sudah berhasil kolaborasi dengan kelompok komunis untuk bikin virus yang bisa membuat manusia takut berkumpul di rumah-rumah ibadah."

“Tapi kenapa di dunia Muslim, Umat Muhammad hanya sebentar saja takut ke Masjid? Coba lihat sekarang, semua negara Muslim sudah siap-siap laksanakan Ibadah Haji ke Tanah Suci mereka di kawasan Hijaz.”

Hampir semua Iblis yang ditugaskan di negara Muslim melaporakan kegagalan mereka menggoda Umat Muhammad karena tak sanggup menghadapi kegigihan para Ulama Islam menjaga iman dan akidah umatnya.

Lalu Iblis yang bertugas di salah satu negara di Asia Tenggara minta persetujuan Dewan Strategi Majelis Iblis untuk menggunakan cara baru yang dianggap lebih efektif dalam menggagalkan manusia beribadah kepada Allah. Ia pun membeberkan strategi yang sudah dirancang matang itu.

1. Menggoda dan menghasut penguasa untuk mengkriminalisasi para Ulama sehingga para Ulama pada masuk bui dan tidak bisa memandu ummat Muhammad untuk tetap di Jalan Allah.

2.Untuk menggagalkan ummat menjalankan Ibadah Haji, semua Iblis melakukan tindak-pencurian besar-besaran  dana ummat yang sudah terkumpul, sehingga ummat tidak punya logistik untuk berangkat ke Tanah Suci.

Setelah dibahas oleh Komando Pusat Strategis Iblis, hasilnya disampaikan Sekjen Majelis Iblis. Gagasan nomor 1, menggoda penguasa untuk mengkriminalisasi para ulama dan pemuka Ummat (Islam) disetujui sebagai pola kerja Iblis di negara-negara yang banyak berpenduduk Muslim.

Tapi skenario ke-2, mencuri dana haji, ditolak mentah-mentah.

Kata Sekjen Majelis Iblis dengan nada tinggi: “Mencuri, apalagi dana haji, ini tindak pidana, perbuatan kriminal, merendahkan harkat dan martabat Iblis di hadapan Tuhan.”

“Kalian para Iblis harus ingat, ketika Tuhan murka dan melaknatku karena menggoda Adam dan Hawa, aku berjanji akan terus menggoda, hanya menggoda, ingat sekali lagi, ha-nya meng-go-da… anak-cucu Adam agar menjadi pengikut kita, meninggalkan Tuhannya.”

“Ingat, untuk senantiasa menjaga harkat dan martabat Iblis di hadapan Tuhan. Iblis tak pernah ingkar janji. Janji kita hanya menggoda umat manusia. Biarkan janji ini terus kita pegang teguh. Sampai hari kiamat.”

“Oleh sebab itu, rencana mencuri dana haji 1000 persen ditolak. Dan kepada notulis, harap gagasan mencuri dana haji dibuang, jangan dicatat dalam risalah rapat. Itu ide tak bermoral. Merendahkan akal Iblis yang sudah teruji ribuan tahun!”

Sidang sesi ini ditutup dengan pesan perintah kepada Humas Majelis Iblis Internasional untuk menyampaikan pesan kepada manusia melalui media sosial:

“Apabila ada pencurian dana haji, itu bukan bagian dari operasi Iblis di muka bumi!”

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Meluruskan Hari Lahirnya Pancasila: Dari Piagam Jakarta Hingga Dekrit Presiden

Selasa, 02 Juni 2026 | 20:01

Kuasa Hukum Gus Yaqut Sebut Tidak Ada Konfirmasi Aliran Dana

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:46

RI Impor Emas 2,5 Ton pada April 2026, Australia jadi Pemasok Terbesar

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:16

Saksi Perkara Maluku, Thobahul Aftoni Akui Mardiono Ketum PPP

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:13

BEM PTMA: MBG adalah Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:09

Gerinda Sebut Lawatan Prabowo Perkokoh Posisi Indonesia di Kancah Dunia

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:08

KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:05

Habiburokhman: Zaman Pak Dino Sehebat Apa sih?

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:50

Daftar Harga LPG 5,5 kg dan 12 Kg Terbaru, Cek Tiap Provinsi

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:47

SPI: Nasionalisme dan Kepastian Hukum Harus Seimbang

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:46

Selengkapnya