Berita

Warga Muslim Kanada di depan tanda peringatan lokasi pembunuhan keluarga Muslim/Net

Dunia

Pengamat China: Diskriminasi Rasial Di Balik Tragedi Pembunuhan Keluarga Muslim Di Kanada

KAMIS, 10 JUNI 2021 | 09:39 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pengamat China mengatakan pembunuhan terhadap empat anggota keluarga Muslim di Kanada tidak lepas dari diskriminasi rasial yang mengakar di negara itu.

Empat anggota keluarga Muslim Kanada tewas pada hari Minggu (6/6) dalam apa yang dikatakan polisi sebagai kejahatan rasial yang direncanakan karena agama yang dianut para korban.

Ini bukan kali pertama terjadi perilaku ekstrem yang didasari sentimen dan diskriminasi agama.


Pada Januari 2017, terjadi penembakan masjid Kota Quebec yang menewaskan enam orang tewas dan delapan luka-luka. Sejak kejadian tersebut, House of Commons of Canada bahkan telah mengeluarkan mosi untuk menghapuskan diskriminasi terhadap Muslim, termasuk konten tentang menghentikan diskriminasi atas agama.

Namun, kejahatan kebencian terbaru di London, Ontario menunjukkan bahwa diskriminasi masih mengintai jauh di dalam masyarakat Kanada.

The Vancouver Sun dalam laporannya pada Selasa (8/6) mengatakan, serangan terbaru adalah contoh ekstrim dari kekerasan yang dihadapi Muslim di seluruh negeri.

Surat kabar itu melaporkan, dari 2015 hingga 2019, Dewan Nasional Muslim Kanada melacak lebih dari 300 insiden, termasuk lebih dari 30 tindakan kekerasan fisik.

Sementara Statistics Canada mengatakan pada bulan Maret bahwa kejahatan rasial yang dilaporkan polisi yang menargetkan Muslim "naik sedikit" menjadi 181 insiden pada 2019 - tahun terakhir di mana data tersedia. Itu naik dari 166 insiden tahun sebelumnya.

Pada bulan September, Mohamed-Aslim Zafis yang berusia 58 tahun ditikam dengan fatal di luar sebuah masjid di ujung barat Toronto tempat dia bekerja sebagai penjaga, menurut laporan Al Jazeera.

Liu Dan, seorang peneliti di Pusat Studi Kanada di Universitas Studi Asing Guangdong, percaya bahwa diskriminasi rasial berada di balik serangan ekstrem kali ini.

Liu mengatakan kepada media China Global Times pada hari Rabu (9/6), bahwa diskriminasi rasial adalah masalah yang mengakar di Kanada, yang dipengaruhi oleh berbagai elemen, termasuk hubungan bilateral tertentu dan partisipasi politik kelompok etnis tertentu.

"Warga Kanada keturunan India menjalani kehidupan yang baik di Kanada. Pada 2019, PM Kanada Justin Trudeau memasukkan empat menteri warisan ini ke dalam kabinetnya. Tetapi orang Asia dari negara lain kurang berpartisipasi dalam politik, dan sering menjadi kambing hitam untuk beberapa masalah sosial," kata Liu.

"Status Muslim di Kanada tidak tinggi karena negara tersebut memiliki perselisihan hak asasi manusia dengan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi," tambahnya.

Sebuah pengajuan kepada Pelapor Khusus PBB tentang Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan pada 30 November 2020 menyebutkan bahwa 52 persen warga Kanada merasa bahwa Muslim hanya dapat dipercaya "sedikit" atau "tidak sama sekali", sementara 42 persen warga Kanada menganggap diskriminasi terhadap Muslim adalah "terutama kesalahan mereka."

Pemerintah Kanada terkenal dengan diplomasi hak asasi manusia secara internasional, dan telah membentuk citra sebagai benteng hak asasi manusia. Namun, masih meningkatnya Islamofobia dan tragedi hak asasi manusia di Kanada mencerminkan kemunafikan Ottawa.

Pemerintah Kanada tidak berfokus pada hak asasi manusia tetapi menggunakan hak asasi manusia untuk melayani tujuan politiknya, tulis Global Times.

Ketika Ottawa berencana untuk menjadikan hak asasi manusia sebagai senjata untuk memukul orang lain, sepertinya mereka harus berpikir dua kali.

Sama seperti Senator Kanada Peter Harder yang juga mantan wakil menteri Luar Negeri, mengatakan dalam penentangannya terhadap mosi yang mengkritik kebijakan Xinjiang China: "Realitas mengerikan dari sejarah kita ini sangat kontras dengan nada superioritas moral dan pembenaran diri yang terkandung dalam gerakan di hadapan kita malam ini."

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya