Berita

Sekolah Asrama Indian Kamloops /Net

Dunia

Kuburan Massal Berisi Sisa-sisa Tengkorak 215 Anak Ditemukan Di Lahan Bekas Sekolah Asrama Indian Kamloops

SABTU, 29 MEI 2021 | 10:00 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Penemuan kuburan massal berisi 215 sisa-sisa tengkorak anak-anak menggemparkan Kanada.

CNN melaporkan pada Sabtu (29/5), kuburan massal berisi sisa-sisa 215 anak Pribumi telah ditemukan di lahan bekas sekolah asrama di pedalaman British Columbia selatan.

Tk'emlups te Secwépemc, badan perlindungan yang memiliki misi memastikan kesejahteraan fisik, mental, emosional dan spiritual orang-orang Indian,  telah mengkonfirmasi pada Kamis (27/5) malam waktu setempat, bahwa anak-anak itu adalah siswa Kamloops Indian Residential School.  
Dalam rilisnya, Kepala Tk'emlups te Secwépemc, Rosanne Casimir, mengatakan penemuan itu sebagai 'kabar buruk yang tak terpikirkan' yang sejauh ini belum pernah didokumentasikan oleh Kamloops Indian Residential School yang merupakan sekolah terbesar dalam sistem sekolah perumahan Urusan India di negara itu.

Dalam rilisnya, Kepala Tk'emlups te Secwépemc, Rosanne Casimir, mengatakan penemuan itu sebagai 'kabar buruk yang tak terpikirkan' yang sejauh ini belum pernah didokumentasikan oleh Kamloops Indian Residential School yang merupakan sekolah terbesar dalam sistem sekolah perumahan Urusan India di negara itu.

“Kami memiliki pengetahuan di komunitas kami bahwa kami dapat memverifikasi. Sepengetahuan kami, anak-anak yang hilang ini adalah kematian tanpa dokumen,” kata Rosanne Casimir, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (29/5).

Dari 215 sisa tengkorak itu beberapa ada yang termuda dengan usia tiga tahun, menurut penelitian. Tetapi penyebab dan waktu kematian mereka belum diketahui.

“Banyak hal yang masih menjadi pertanyaan, dan kami sedang berusaha mencari jabawannya," kata Casimir.

Ia menceritakan bahwa akhir pekan lalu dengan bantuan spesialis radar penembus tanah, mereka berhasil mengungkap apa yang selama ini pernah menjadi kecurigaan mereka.

Masyarakat adat telah lama meyakini adanya kuburan massal siswa sekolah asrama. Dibutuhkan waktu dan proses yang panjang selama beberapa dekade untuk mengungkap keberan itu.

"Itu penting karena kisah kuburan massal sekolah-perumahan rahasia adalah legenda urban," kata sebuah kolom di outlet berita British Columbia TheTyee.ca .

Harvey McLeod, yang bersekolah selama dua tahun di akhir 1960-an, mengatakan kepada CNN, bahwa kabar itu sangat mengejutkan.

"Saya sangat sedih. Sangat menyakitkan mendengar ini. Kami akhirnya mendengar apa yang selama kami duga," katanya. Selama beberapa dekade, McLeod mengatakan dia dan mantan siswa seperti dia akan bertanya-tanya apa yang terjadi pada teman dan teman sekelasnya.

Sekolah asrama Indian Kamloops didirikan pada tahun 1890 di bawah kepemimpinan gereja Katolik Roma, dan ditutup pada tahun 1978.

Itu adalah bagian dari jaringan sekolah asrama lintas-Kanada yang dibuat untuk secara paksa mengasimilasi anak-anak Pribumi dengan mengeluarkan mereka dari rumah dan komunitas mereka. Melarang mereka berbicara dalam bahasa asli mereka atau melakukan praktik budaya.

Pelecehan fisik, emosional dan seksual merajalela di dalam lembaga-lembaga ini, begitu pula kerja paksa, menurut penelitian.

Setidaknya 150.000 anak bersekolah di sekolah tersebut. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi 2015 menggambarkannya sebagai 'budaya genosida' yang menargetkan masyarakat Pribumi Kanada .

Dalam dokumen yang diserahkan kepada komisi, mantan siswa Kamloops menggambarkan kondisi sekolah yang keras, yang tidak menerima cukup dana per kapita dari pemerintah untuk membayar biayanya.

Ada yang menyebutnya sebagai sekolah yang 'kelaparan dan tidak sehat'.

Dokumen yang sama menyebutkan bahwa siswa terkena wabah campak, tuberkulosis, influenza dan penyakit menular lainnya, dan banyak yang meninggal.

Dalam laporan tahun 1935 tentang kematian akibat campak di sekolah, seorang agen mencatat bahwa sebanyak 285 siswa itu tinggal di kamar yang sesak yang tidak mungkin melakukan isolasi dengan benar.

The Truth and Reconciliation Commission (TRC) mencatat bahwa sejumlah besar anak-anak adat yang dikirim ke sekolah ini tidak pernah kembali ke keluarga mereka. Beberapa anak melarikan diri dan yang lainnya meninggal di sekolah.

Para siswa yang tidak kembali kemudian dikenal sebagai Anak Hilang.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Indeks Kecakapan Bahasa Inggris di Indonesia Masih Rendah, Ini Sebabnya

Selasa, 09 Juni 2026 | 22:16

Putusan Kasasi MA Sengketa Lahan Digugat, Prinsipal Lapor Badan Pengawas

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:53

KPK dan Polri Ternyata Lakukan Joint Investigation dalam OTT Bupati Muara Enim

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:44

Badak Kalimantan Terakhir di Alam Liar Segera Dievakuasi

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:16

Nadiem Kecewa Replik Jaksa Abaikan Fakta Persidangan

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:05

Budi Bantah Ditawari Jadi Menkeu: Sekarang Masih Menkes!

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:00

Citizen Lawsuit, Rangkap Jabatan Otto Hasibuan Digugat ke Pengadilan

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:52

DEN Ingatkan Risiko Inflasi Imbas Rupiah Melemah

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:45

Besok Prabowo ke Lampung, Tinjau RSUD Krui

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:36

Luhut: 80 Persen Data Pemerintah Sudah Terhubung Lewat GovTech Berbasis AI

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:21

Selengkapnya