Berita

Joko Intarto/Net

Publika

Qurban Berteknologi

SENIN, 24 MEI 2021 | 02:43 WIB | OLEH: JOKO INTARTO

SEANDAINYA hari ini berqurban menyembelih sapi, model distribusi seperti apa yang akan Anda pilih? Membagikan daging qurban dalam keadaan segar begitu saja? Atau mengemas dulu daging itu sehingga kesegarannya bisa dipertahankan hingga Idul Qurban tahun depan?
 
Mayoritas masyarakat muslim sampai saat ini masih memilih model pembagian daging qurban dalam keadaan fresh alias segar. Cara ini memang paling murah: Tidak perlu sarana pemotongan khusus. Bisa dilakukan di mana saja. Yang penting "bersih". Maksudnya tidak harus steril.

Dengan metode pemotongan secara tradisional itu, umur kesegaran daging sapi menjadi sangat pendek. Setelah 6 jam sejak pemotongan, kesegaran daging akan menurun semakin cepat. Maka daging segar harus didistribusikan selekas mungkin.


Dengan limit waktu yang sangat terbatas, distribusi daging segar tidak mungkin bisa jauh. Apalagi kalau sarana transportasinya juga tidak "bersih".

Berbagai kendala teknis itu biasanya dikompromikan panitia qurban dengan distribusi dalam radius pendek. Di seputar lingkungan masjid atau lokasi pemotongan.

Kalau pun ada "orang jauh" yang menerima daging tersebut, itu karena orang itu yang datang ke lokasi pembagian. Mereka bisa datang karena diundang. Bisa juga datang atas inisiatif sendiri: Siapa tahu kebagian.

Saya jadi ingat pengalaman pada waktu melempar jumrah di Mina, tahun 2001. Begitu banyak daging kambing, sapi dan onta yang digeletakkan begitu saja di beberapa sudut jalan.

Katanya, daging itu boleh diambil siapa saja yang mau. Tapi saya lihat tidak ada yang berani mengambilnya. Mungkin takut dituduh mencuri lalu dihukum potong satu tangannya. Entahlah.

Belakangan saya dengar manajemen daging dam itu sudah diperbaiki dengan program daging matang dalam kaleng agar umur simpannya lebih panjang. Bisa didistribusikan hingga jarak jauh. Bahkan bisa lintas negara. Menjangkau para pengungsi dan korban bencana.

Teknik yang sama mulai dijalankan Lazismu tahun 2018 sampai sekarang. Daging qurban tidak semuanya dibagikan dalam kondisi fresh meat. Sebagian didistribusikan dalam bentuk rendang kaleng siap santap.

Selama tiga tahun terakhir, makanan kaleng itu selalu hadir di lokasi-lokasi bencana di Tanah Air. Menjadi pelengkap menu makan para pengungsi.

Selain pengalengan, ada juga teknik lain untuk memperpanjang masa simpan daging, yaitu teknologi frozen alias pembekuan.

Melalui teknik frozen yang baik, kesegaran daging bisa dipertahankan hingga setahun. Berarti bisa sampai masa qurban tahun depan.

Karena waktu simpannya hingga setahun, daging frozen bisa dimasak sedikit demi sedikit. Sesuai kebutuhan saja. Selebihnya tetap disimpan dalam lemari pendingin. Begitu seterusnya hingga seluruh stok habis.

Teknik frozen ini bisa menjadi pilihan baru bagi shohibul qurban di Jakarta. Khususnya yang menunaikan qurban melalui Lazismu. "Untuk urusan rukun dan syarat, silakan melalui Lazismu. Kami akan melanjutkan teknis selanjutnya, mulai pemotongan dan pembekuan daging di RPH Dharma Jaya, gudang penyimpanan daging beku, jasa catering dan pengiriman ke 41 panti asuhan Aisyiyah dan Muhammadiyah di seluruh DKI Jakarta setiap hari Jumat selama setahun full," kata Lambang Saribuana, Direktur Utama PT Surya Sejahtera Umat (SSU) yang menginisiasi program Qurban Bersama Yatim.

Hanya melayani distribusi ke panti asuhan Aisyiyah dan Muhammadiyah? "Saat ini memang baru itu. Sebab lembaga yang sudah bekerjasama dengan PT SSU baru Lazismu saja. Tetapi kami siap melayani permintaan siapa saja seperti Lazisnu, BPKH serta panitia qurban di berbagai kantor dan sekolah," jawab pria asal Blora yang juga boss CSM Cargo itu.

Untuk memanfaatkan program Qurban Bersama Yatim, shohibul qurban memang harus merogoh kocek lebih dalam. Sebab semua rangkaian proses pengelolaan itu menimbulkan biaya tambahan. Tetapi tambahan itu sebanding dengan manfaatnya yang begitu panjang. Begitulah qurban berteknologi.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 1 Masih Dibuka, Begini Caranya

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:59

Sesat Pikir Program MBG

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:45

Demi Lunasi Utang Pinjol, Seorang Wanita Hampir Disetubuhi Debt Collector

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:18

Cinta dan Benci Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:59

Saatnya Generasi Milenial Tampil Tentukan Nasib Bangsa di Pemilu 2029

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:40

Sumpah Sudaryono dan Donny

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:20

49 Startup Binaan IPB University Didorong jadi Produk Unggulan Nasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:50

Prabowo-Anies Flagships

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:25

TelkomGroup Perkuat Peran Penggiat Budaya Lewat CAMG 2026

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:59

Negara OKI Didesak Bantu Iran Hadapi Agresi AS dan Israel

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:45

Selengkapnya